“Tan
itu si Sito kan?”
“Ha? Yang mana?”
“Itu disebelah
lapangan, yang pake baju warna biru.”
“Oia, itu Sito.”
Seketika aku menatapnya, dan dia balik menatapku. Sebuah tatapan kerinduan,
entahlah aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Namun, aku sangat rindu
dengan dia.
“Ah biasa aja,
ga seganteng kaya apa yang lu ceritain.”
“Terserah lo
deh.” Aku enggan berbicara lagi, yang aku ingin lakukan hanya menyendiri
dikamar. Menangisi semua kesalahanku.
C
Elo tu gajelas,
suka marah-marah sendiri
From: Dika
From: Dika
Seketika
aku menangis, “kenapa sih kita gabisa kaya dulu lagi? Saling pengertian satu
sama lain?”
C
Setelah
menyelesaikan masalah dengan Dika semalem lewat telpon, dia pun mengantarku
sekolah pagi ini. Entah lah, dia adalah lelaki pertama yang membuatku menangis.
Padahal dulu, dia yang selalu membuatku tertawa, tapi akhir-akhir ini kami
selalu berantem mempeributkan hal kecil. Aku sangat menyanyanginya sebagai
sahabat. Namun, hubungan kami terlalu dekat, bahkan melebihi orang pacaran,
bahkan aku menyanyanginya lebih dari seorang pacar.
C
Dik, orangtua
gua curiga sama lo. Gua dimarahin abis-abisan sama mereka tadi. Gua gaboleh
ngehubungin lo lagi. Mungkin ini sms terakhir dari gue. Makasih banyak ya Dik
buat semuanya.
Send to: Dika
Aku
tertawa saat mengirim pesan singkat tersebut, meski hati kecilku agak takut
untuk kehilangan dia. Aku sudah membayangkan, bagaimana galaunya dia saat
membaca pesan tersebut.
Oh. Yaudah, gapapa.
From: Dika
“Apa?”
Sontak aku kaget melihat balasan pesan singkat dari Dika. “lho, kenapa jadi gua
yang galau?” Padahal niatku tadi, agar dia galau. Tapi sekarang malah aku yang
jadi galau. Aku pun pergi ke taman, dan menitikkan air mata sambil bermain
ayunan. Seketika, aku melihat Sito yang sedang mengendarai motor, dan tengah
memperhatikanku. Tanpa pikir panjang, aku pun memanggil dia. Kami pun saling
mengobrol dan berbagi cerita.
“Lo masih
jadian sama Dika?” Tiba-tiba Sito bertanya begitu. Aku tidak heran jika mengira
aku jadian dengan Dika, hanya saja aku tidak percaya dia berani menanyakan itu.
“ Siapa
yang jadian? Orang gua cuma sahabatan yee.”
“ Oh,
dikirain jadian.”
“ Tapi gua
sayang banget sama dia Sit.”
Seketika
Sito terdiam. Seperti hendak membicarakan sesuatu, namun enggan mengatakannya.
Aku pun meneteskan air mata lagi karena teringat balasan pesan dari Dika. Sito
yang terdiam pun, sontak kaget melihat reaksiku.
“lo kenapa
Tan?” Tanya Sito dengan bingung. Aku yang tahan lagi pun menceritakan semua
kejadian yang aku alami dengan Dika.
“Lo
beneran sayang banget-bangetan sama dia?”
"Iya.”
Ujarku lirih.
“Ternyata
emang susah ya, ngebiarin orang yang kita sayang bebas sama siapa aja. Tanpa
kita tau perasaan dia ke kita.” Ujar Sito sambil berdiri dan membelakangiku.
“maksud
lo?” Tanyaku bingung menghampiri Sito.
“Lo
inget g? gua pernah bilang kalo gua beneran sayang sama orang, gua gabakalan
jadiin dia pacar. Dan lo inget g? gua pernah bilang ke elo, kalo lo itu temen
terbaik gua.” Seketika Sito terhenti, dan mengambil nafas dalam-dalam. “Iya
tan, gue sayang sama lo!” ujarnya keras, dengan nada yang seakan menunjukkan,
bahwa semua ini salahku.
Aku
yang kaget hanya terdiam mendengar pernyataan itu. Namun ternyata Sito belum
puas, ia melanjutkan ceritanya. “Gua sayang sama lo, makanya gua gamau jadiin
lo pacar, gua pingin suatu saat gua langsung ngelamar lo. Karena lo gapantes
jadi pacar gue, lo pantesnya jadi istri gue!” Sito pun terdiam lagi, kali ini
dia berbicara sambil menunduk. “haha, gue pikir gue gabakalan ngomong kaya gini
sebelumnya. Gue pikir, gue cukup mendem ini aja sendirian.”
“Lo
gaadil Sit! Lo pikir gua gasayang sama lo? Gua sayang banget sama lo dulu, tapi
gua tau lo sukanya sama Diandra, sahabat gue. Lo pikir gua bakalan ngehianatin
dia?!” Ujarku kesal, meluapkan semua emosi yang selama ini tak ada seorang pun
yang tau. “Lo selalu ngedeketin gue buat ngegangguin gue. Dan disuatu sisi,
Diandra selalu cerita betapa romantisnya elo dan betapa sukanya dia sama
lo. Menurut lo gue harus gimana?” aku
menangis tersedu-sedu. Aku memang sayang dengan dia, namun aku tak mau
persahabatanku hancur, aku lebih memilih untuk mengalah dan mencoba
menghilangkan perasaan ini. Namun ternyata, setelah hampir setahun, perasaan
ini hanya tersembunyi, dan seketika muncul ketika aku menatapnya kembali.
Kami
berdua terdiam hampir satu jam. Saling mempertahankan ego masing-masing. Aku
yang tak tahan memilih pulang tanpa berpamitan dengan dia, dan membiarkan dia
sendiri disana. Setelah sekian lama tak bertemu, akhirnya kami bertemu juga.
Dan mungkin, itu tadi bisa jadi pertemuan terakhir kami.
C
Aku
menangis tersedu-sedu dikamar. Dilema ini muncul, disuatu sisi, aku akhirnya
tau bahwa Sito juga sayang padaku. Namun disisi lain, aku mecoba melupakannya
dan kini aku pun begitu menyayangi Dika.
Tan,
gue didepan rumah lo.
From:
Sito
“Ada
apa?” tanyaku sedikit lirih karena sehabis menangis.
“Tan, gue sayang banget sama lo.
Gua gamau nunggu lama lagi Tan. Terserah lo deh, mau pacaran, sahabatan, atau
hts-an sekalipun gue mau Tan. Asalkan gue bisa deket sama lo. Gue udah tersiksa
selama ini cuma bisa mendem perasaan ini doang.”
“Sit, gua juga sayang sama lo,
tapi dulu. Sekarang gue sayangnya sama Dika.”
“Apa udah gada kesempatan buat
gue Tan? Gue janji gua gabakalan bikin lu nangis kaya yang Dika lakuin ke elo
Tan. Gua bakalan memperlakukan lo lebih baik daripada Dika.”
“Gabisa Sit, gue sayang banget
sama Dika.” Ujarku sedikit menangis.
“Please, satu kesampatan ini
Tan?” ujar Sito begitu memohon.
“Engga
bisa untuk saat ini Sit!” Jawabku sedikit membentak. Aku pun langsung masuk
kedalam rumah dan membiarkan Sito diluar. Namun, tak lama kemudian, ia pun
pulang.
C
Aku
pun mencoba memperbaiki hubunganku dengan Dika. Aku mencoba meminta maaf atas
keegoisan aku selama ini. Dan aku mencoba untuk tetap pengertian dalam
menghadapi dia. Semakin hari, semakin aku menyayangi dia, dan semakin juga aku
melupakan tentang Sito.
C
“Tan,
gue diterima di UGM, minggu depan gua berangkat. Wish me luck ya!” ujar Dika
begitu senang.
“Lo
serius mau disitu aja Dik? Gamau di UI aja? Kan biar deket gitu.”
“Engga lah, gua disana aja.
Lagian makam ibu gue kan disana, jadi biar gue deket terus sama beliau”
“Yaudah,
apapun keputusan lo, gue bakalan dukung lo kok! Sukses ya di Jogjanya!” Ujarku
dengan memaksakan senyum. “Apa lo gamikirin perasaan gua yang bakal kehilangan
elo Dik?” ujarku dalam hati.
C
Hari
ini pun aku pergi menghabiskan waktu bersama Dika sampai keberangkatannya nanti
sore. Rasanya tak ingin sedetik pun aku kehilangan dia. Aku tetap ingin bersama
dia, meskipun hanya menatap wajahnya, tanpa mengobrol sama sekali.
“Lo
kenapa sih ngeliatin gue begitu banget?”
“Gue
pasti bakalan kehilangan lo banget Dik.” Ujarku lirih, tak terasa air mata
mengalir deras dipipiku.
“Udah
ah jangan nangis, kan gua disana buat kuliah, jadi itu kan niat baik.” Jawab
Dika, sambil mengusap air mataku.
“Tapi
gue pasti kangen banget sama lo.”
“Kan sekarang teknologi udah
maju taniaku, kita tetep bisa telpon-telponan atau berkirim pesan kaya biasanya.”
“Gue sayang banget sama lo. Lo
janji ya gabakalan lupain gue?”
“iya, gue janji.”
Aku
pun langsung memeluk Dika begitu erat, menghirup aroma tubuhnya, yang akan
sangat aku rindukan.
“Gue
juga sayang sama lo. Lo baik-baik ya disini, jangan ngelakuin hal yang
macem-macem ya.” Ujar Dika seraya membelai rambutku.
“Iya, lo juga ya. Jangan lupa makan, terus solatnya jangan ditinggal lho ya.” Ujarku tak kuasa menahan air mata.
“Iya, lo juga ya. Jangan lupa makan, terus solatnya jangan ditinggal lho ya.” Ujarku tak kuasa menahan air mata.
“Eh
udah jam segini nih, nanti gue ga kebagian bis lagi.” Ujar Dika, membuat aku
terpaksa melepas pelukan ini.
“Emangnya
gabisa berangkat besok aja? Gua masih mau sama lo.”
“Gabisa,
besok hari terakhir daftar ulangnya.”
“Yaudah,
gua boleh minta sesuatu g?”
“Apa?”
“Gue
mau baju yang lo pake sekarang.”
“Lho,
gua ambilin yang masih bersih aja. Yang ini udah bau, terus bekas air mata lo
juga kan.”
“Gamau,
gua maunya yang itu.”
“Yaudah,
nanti gue ganti baju, terus baju yang ini gua kasih ke elo.”
C
Beberapa hari
setelah keberangkatan Dika, aku masih terus memikirkan dia, aku selalu membawa
baju dia, kemana pun aku pergi. Dika pun lama sekali membalas pesanku, mungkin
dia sibuk dengan urusannya disana.
I
cant stop thinking of you. I miss you so bad :(
From:
Dika
Belum sempat
aku membalas pesan tersebut, aku melihat panggilan dari dirinya.
“halo”
“halo
adik, gimana keadaanmu? Kangmasmu rindu sekali ini.”
“baik-baik
aja kangmas. Aku juga rindu berat sama kamu.”
Setelah
menelpon hampir tiga jam, kami pun mengakhiri pembicaraan kami. Aku senang, ternyata Dika tidak lupa akan diriku.
Aku pun harus melanjutkan hariku, maka besok aku akan mendaftar ulang di UI,
karena aku diterima disana.
C
Hampir
empat tahun, aku menjalani hariku tanpa Dika. Aku sudah terbiasa akan hal itu,
hubungan kami memang tidak sedekat dulu, karena masing-masing dari kami yang
sibuk. Dika pun sudah lulus kuliah, dan akan bekerja di Jakarta mulai minggu
depan. Aku pun begitu semangat karena akhirnya ia kembali.
Ke
Jakarta hari apa? Minggu depan gua wisuda lho
Send
to: Dika
Kayanya
lusa deh. Oke, gua bakalan dateng kok.
From:
Dika
Melihat
jawabannya, aku menjadi semakin semangat akan acara wisuda nanti. Aku sudah
mempersiapkan segalanya dengan sempurna.
C
“Selamat
ya Taniaku. Akhirnya jadi sarjana ekonomi juga.” Ujar Dika mendekatiku.
“Dikaaaa.”
Teriakku sambil langsung memeluknya. Kembali ku hirup aroma tubuhnya, tak
pernah berubah. Entahlah, itu adalah sebuah aroma khas dari dirinya, dan selalu
membuatku rindu akan dirinya.
“eh
gua bawa kejutan buat lo.” Ujar Dika bersemangat.
“Apaan?”
Ujarku yang masih menggandeng tangan Dika erat.
Tak
lama kemudian muncul Sito dari kejauhan. “ Selamat ya tan, semoga sukses
kedepannya.” Ujarnya sambil mengulurkan tangannya padaku. “Iya, makasih ya.”
Sambil menjulurkan tangan. “udah jangan lama-lama pegangannya. Sekarang kita
cari restaurant yuk, sambil merayakan kelulusan sahabatku tercinta ini.” Ujar
Dika sambil mencubit daguku.
C
“Jadi
sebenernya, gua di Jogja sana itu ngekost berdua sama Sito.”
“Kok lo
gapernah ngasih tau gua? Iiih jahat.”
“Iiiih
pingin banget tau emangnya? Yeee”
“Tau ah!
Ngeselin!”
“Lo tau g?
gue kalo kangen sama lo itu ceritanya sama Sito, eeeh ternyata kita berdua
sama-sama kangen elo.”
“Dih? Elo
doang kalii. Gue engga.” Ujar Sito menimpal.
“Yee,
gamau ngaku! Gua kasih tau semuanya nih.” Jawab Dika sambil melempar tissue.
“Waah
ngeselin ni anak!” Timpal Sito balik melempar tissue.
“iih udah
udah ah, kaya anak kecil lo berdua.” Ujarku melerai mereka.
Mereka pun
tertawa terkikik. “Eh To, udah sekarang aja.” Tiba-tiba Dika berbisik kepada
Sito. “Tan, To, gue ke toilet dulu ya sebentar.” Ujar Dika yang langsung lari
kebelakang, tanpa persetujuan dari aku maupun Sito.
Suasana
pun terasa canggung setelah kepergian Dika, Sito dan aku hanya terdiam membisu.
Sebelum akhirnya Sito membuka suara.
“Tan, gue
mau ngomong sama lo.”
“Apa?”
“Dulu lo
bilang, lo gabisa nerima gue saat itu, jadi gua mau minta kesempatan kedua itu
sekarang.”
“Maksudnya?”
“Tan, gua
cinta sama lo. Lo mau g jadi istri gue?”
“Maaf To,
gue gabisa jawab sekarang.”
“Gue
gapernah lelah nungguin jawaban lo kok.”
Aku pun
hanya tersenyum, yang menunjukkan terima kasih. Lalu Dika pun kembali dari
toilet, dan terlihat penasaran.
C
“Lo pasti
udah ngerencanain ini semua sama Sito kan Dik?” Gertakku marah terhadap Dika.
“Iya Tan,
gue emang udah ngerencanain ini dari lama.”
“Maksud lo
apa? Lo udah ga sayang lagi sama gue?”
“Justru
karena gua sayang sama lo, gua ngelakuin ini Tan. Gua tau Sito lebih bisa
ngebahagiain lo daripada gue.”
“Tapi gue
sayangnya sama elo dik.” Ujarku menangis dan langsung memeluknya.
“Lo pasti
bisa sayang lagi ke dia Tan, lo Cuma perlu ninggalin gue, dan balik sama dia.”
“maksud lo
apa? Engga engga, gue gasetuju.” Ujarku melepas pelukan dan langsung menjauh
dari dia.
“Yaudah,
kalo lo mau kita tetep sahabatan, lo harus terima lamarannya Sito.” Ujar Dika
membelai rambutku. “Gue udah tau kok Tan, awalnya lo mau deket sama gua, biar
lo lupa kan sama Sito?”
“Maafin
gua Dik, tapi sekarang gua beneran sayang sama lo.”
“Yang
perlu lo lakuin sekarang, lo tinggal tumbuhin rasa sayang yang dulu lo punya
buat dia.”
“Apa lo
gatakut kehilangan gua, seperti gua takut kehilangan lo dik?”
“Engga.
Karena gua tau lo gabakalan ninggalin gua.”
“Dika,
maafin gua selama ini gua egois, gua terlalu kekanak-kanakan sama lo ya Dik.”
Ujarku sambil memeluknya kembali.
“Iya, gua
ngerti kok. Sekarang, lo mau ya terima lamarannya Seto?”
“Iya gua
mau.” Ujarku lalu terdiam. “Demi lo Dik.”
“Nah! Gitu
dong, makasih ya adik sayang.” Ujar Dika sambil mencubit hidungku lalu
memelukku.
C
Aku pun
menerima lamaran Sito, dan Sito terlihat begitu bahagia. Setelah itu, Sito
menyiapkan semua resepsi acara pernikahan. Aku pun belajar mulai menyayangi dan
bahkan mencintai Sito sebagai suamiku, namun tak lupa tetap menyayangi Dika
sebagai sahabatku.
“Kalian
tau g? aku ini cewe paling beruntung di dunia, karena punya dua orang yang
hebat seperti kalian.” Ujarku saat bersama sito dan Dika di sebuah restaurant.
“Hahaha.
Gua doain kalian langgeng sampe akhir hayat, cepet punya momongan yaa.” Ujar
Dika menimpal.
“Makasih
lho doanya. Gua doain juga lo biar cepet dapet calon yee.” Ujar Sito.
“iiih
apaan sih, engga engga ah gausah cepet-cepet.” Jawabku sedikit kesal.
“Lho kamu
kan udah punya aku. Kasian lho dia, nanti jadi perjaka tua. Hahaha”
“Iiih tapi
nanti kalo dia ngejauh gara-gara udah punya orang lain gimana?”
“Yang
penting kan kamu masih punya aku yang gabakalan pergi dari kamu.” Ujar Sito
langsung merangkul pundakku.
“Wah yang
mau jadi pengantin mesra banget, jadi mau” Ujar Dika bercanda.
“Yeee
dasar lo. Punya gua nih sekarang.” Ujar Sito melempar tissue.
Lalu kami
pun tertawa bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar