“ Sar! Gue dapet nomornya Ryan
dong.”
“ Kok
bisa?”
“ Iya, gua sms Tora, pura-pura
jadi Rania, anak sekolah yang sebelah itu. Nah terus gua dapet deh nomornya
Ryan.”
“ Terus lo udah sms si Ryannya?”
“ Udah sih, tapi ngakunya sebagai
Rania.”
“ Terus kapan lo mau ngakunya?”
“ Gatau nih. Makanya gua butuh
bantuan lo.”
“ Apaan?”
“ Lo sms si Ryan, bilang kalo
gua suka sama dia.”
“ Lo serius Put?”
“ Seriuuus.”
“ Tapi kalo ada apa-apa gua ga
nanggung yaa.”
“ Okedeh.”
◌
“ Nih Put hape gue, gue kebawah
dulu ya ngambilin minuman buat lo sama Dini.”
“ Okedeh. Makanannya sekalian
yaa” Jawab Dini sambil tertawa.
“ Sialan lo.” Sarah pun memukul
bahu Dini.
Saat Sarah
turun kebawah, Dini sedang asyik memainkan laptopnya, dan Putri pun memainkan
hape Sarah.
“Din,
si Sarah masih suka Andre? Temennya si Ryan itu.”
“
Kayanya masih deh.” Dini pun menghampiri Putri.
“ Lo ga
sakit hati? Kan lo juga suka sama Andre.”
“ Ya
engga lah, toh gua suka sama Andre cuma dari gayanya doang.”
“ Eh
ini nih minumannya. Makanannya ga ada, nyokap gua baru mau belanja soalnya.”
Sarah pun menghampiri kedua temannya.
“ Sar,
lo mau nomornya Andre ga? Kan Andre temennya si Ryan juga.” Tanya Sarah.
“ Gue
udah punya kalii. Waktu itu sempet smsan, tapi dianya begitu, cuek banget.”
“
Terus? Lo mau nyerah gitu?”
“ Bukan
nyerah, Cuma gamau terlalu berharap.”
◌
“ Put,
semalem gue udah sms Ryan.”
“ Terus
dia gimana Sar?” Putri pun medekat dan begitu excited.
“ Dia bilang, dia gasuka
sama lo. Ah gua bilang juga apa, lo terlalu buru-buru.”
“
Yaudah gapapa. Tapi gua pingin bisa smsan sama dia sebagai diri gua yang asli.”
“
Yaudah nanti gua usahain deh.”
“
Makasi ya Sar.”
“ Iya.”
Sarah
pun pergi keluar kelas untuk berjalan-jalan. Ia memang orang yang mudah suntuk
di dalam kelas. Lalu ia pun berjalan melewati kelas Ryan.
“
Sarah!” Sapa Ryan dari belakang.
“ Eh
elo.”
“
Ngapain lo disini? Modus ya sama gua?”
“ Yee,
pengen banget dimodusin emang?”
“ Alah
hayo ngaku, modus mah bilang aja.”
“ Yah,
jomblo sih. Makanya pingin dimodusin.”
“ Wah
sialan lo. Kaya elo engga jomblo juga aja.”
Lalu
bel sekolah pun berbunyi. Pertanda bahwa pelajaran pertama akan segera dimulai.
“ Eh
gua balik ke kelas ya. Daaah”
“
Daaah.”
Ryan
pun melambaikan tangannya. Aku pun berlari-lari kecil agar segera sampai
dikelas.
“ Tadi
lo ngapain sama Ryan?”
“ Oh
tadi? Cuma ngobrol biasa doang.”
“
Ga ngomongin gua kan?”
“ Ya
engga lah.” Sarah berbicara sedikit keras.
◌
Malam
ini Sarah mengerjakan tugas hingga larut malam di laptopnya. Saat ia mulai
bosan, ia mencoba membuka situs jejering social miliknya.
Ryan21 :
belum tidur?
Saraaaaah :
belum. Hihi
Ryan21 :
ngapain?
Saraaaaah :
ngerjain tugas. Lo?
Ryan21 :
gue mah emang kalo tidur malem.
Saraaaaah :
oooooh.
Ryan21 :
mau gua temenin ngerjain tugas ga?
Saraaaaah :
gimana caranya?
Ryan21 :
ya lewat chat laah.
Saraaaaah : owalah boleh deh. Tapi kalo lo
ngantuk tidur aja. Lagian gua juga balesnya bakalan lama
Ryan21 : okedeh.
Saraaaaah : gua lanjutin ngerjain tugas lagi
yaaa
Ryan21 : sip.
Sarah
pun kembali melanjutkan tugasnya dan membiarkan jejaring sosialnya dalam
keadaan online. Sarah yang sibuk
mengerjakan tugasnya tak memperdulikan pesan yang dikirim oleh Ryan kepadanya.
Lalu setelah dua jam kemudian, setelah tugasnya selesai, ia pun membalas pesan
dari Ryan.
Saraaaaah : sorry, baru bales. Udah tidur belum?
Setelah
menunggu hampir sepuluh menit, Ryan tidak membalas pesan tersebut. Sarah pun
berniat untuk offlline dan bergegas
tidur.
Ryan21 : belum. Sorry ya, tadi abis dari kamar mandi.
Saraaaaah : oh iya gapapa.
Ryan21 : udah selesai tugasnya?
Saraaaaah : udah. Hehe
Ryan21 : terus sekarang mau ngapain?
Saraaaaah : gatau deh.
Ryan21 : yaudah, chat aja sama gua.
Saraaaaah : boleeeeehh. Ahaha.
Sarah
pun saling bercakap dengan Ryan di dunia maya. Hingga hampir jam tiga pagi.
Mereka saling mengobrol panjang lebar.
◌
“
Din gua mau cerita sama lu.” Ujar Sarah menghampiri Dini.
“
Kenapa?” Dini pun menutup laptopnya, dan serius mendengarkan Sarah.
“
Semalem gua chat sama Ryan sampe jam
tiga.”
“
kok bisa?”
Sarah
pun menceritakan apa yang terjadi semalam. Dini yang terlihat bingung harus
bersikap bagaimana pun memilih untuk diam sejenak.
“
Tapi lo gasuka kan sama dia?”
“
Ya engga lah! Masa gua makan temen gua sendiri?”
“
Yaudah lu jujur aja sama Putri. Tapi ga sekarang.”
“
Yaudah nanti deh.”
◌
“
Sar! Semalem Ryan sms gue.”
“
Iya? Waahh seneng tuuuh.”
“
banget malah! Makasih ya Sar.” Seketika Putri pun langsung memeluk Sarah.
◌
Udah
tidur belum?
From:
Ryan
Belum
dong. Otw bandung nih. Hehe
Send
to: Ryan
Bilangin
sama supirnya suruh hati-hati ya. Udah malem soalnya.
From:
Ryan
Sarah
pun saling berkirim pesan dengan Ryan malam itu. Sebenarnya, ia merasa tidak
enak dengan Putri, namun ia juga tidak mau menjauh dari Ryan. Karena ia takut
hanya dianggap memanfaatkan Ryan selama ini.
◌
“ Sar, Ryan kalo bales sms jutek
banget ya?” Tanya Putri menghampiri Sarah.
“ Engga ah. Biasa aja.”
“ Lo masih suka smsan sama dia?”
“ Kadang-kadang. Kalo dia sms gua
duluan.”
Putri pun meinjam hape Sarah dan membaca semua pesan dari Sarah. Tersirat
sebuah pancaran kekecewaan dari wajah Putri.
“ Lo suka sama Ryan juga ya Sar?”
“ Ha engga kok.”
“ Bohong! Maksud lo apa smsan
sama dia sampe tengah malem begini? Gua ga nyangka lo setega ini sar!”
“ Tunggu dulu, gua bisa jelasin
semuanya Put.”
“ Udah lah Sar, gue kecewa sama lo!” Putri pun pergi menjauhi Sarah, dan
menghampiri teman-temannya yang lain
◌
Sarah bingung harus bersikap bagaimana. Ia sadar, bahwa seharusnya dari
awal ia tak usah menanggapi semua pesan-pesan dari Ryan itu. Bahkan sekarang
Sarah pun marah pada Ryan, ia berkata bahwa ia tak mau mengenal Ryan lagi.
Ryan pun tak mau disalahkan, karena dari awal ia sudah bilang bahwa ia
tidak menyukai Putri, hanya saja Sarah yang selalu memaksanya untuk mendekati
Putri. Bahkan Sarah sempat mengancam untuk tidak mau mengenal ia lagi jika ia
tidak mengirim pesan pada Putri.
Ryan yang tidak tahan lagi akan situasi ini pun berbicara pada Dini,
sahabat dari Sarah dan Putri. Merekan pun mengatur rencana untuk mempertemukan
mereka berempat.
◌
Akhirnya mereka pun bertemu disebuah restaurant. Setelah beberapa lama
mereka hanya diam, Ryan pun bersuara memecahkan keheningan.
“ Oke, semua ini rencana gua buat mempertemukan kalian berdua dan Dini.
Gini, gua mau jelasin semuanya. Karena gua gasuka posisi gue sekarang sebagai
penghancur hubungan persahabatan seseorang.” Ryan pun menarik nafas dalam-dalam
dan melanjutkan pembicaraan. “ Untuk Putri, maaf Put, gue emang gasuka sama lu.
Gua harap lu ngerti, dan bisa nemuin orang yang lebih baik dari pada gue.”
“ Oke. Gapapa. Tapi lo harus jawab pertanyaan gue.” Pinta Putri terhadap
Ryan.
“ Apa?”
Dengan menatap Sarah dan kembali menatap Ryan pun, Putri memberanikan
diri bertanya, “ Lo suka ga sama Sarah?” mendengarkan pertanyaan Putri
tersebut, Sarah pun kaget setengah mati. Ia tak menyangka bahwa Putri akan
menanyakan hal tersebut pada Ryan.
Ryan pun menatap Sarah dan menjawab pertanyaan tersebut. “ Iya, gua suka
sama Sarah.” Setelah lama terdiam, Ryan pun melanjutkan kembali, “ Dari dulu.
Waktu pertama kali Sarah sms gua, gua seneng banget. Gua ga nyangka kalo gua
punya kesempatan buat deket sama dia.”
Sarah yang kaget akan pernyataan Ryan pun hanya diam. Sedangkan Putri
hanya memaki-maki dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia meminta tolong Sarah
waktu itu, membiarkan orang yang ia sukai medapatkan kesempatan untuk bisa
dekat dengan orang yang ia sukai, yaitu sahabatnya sendiri.
Ryan pun mengambil tangan Sarah dan menggenggamnya, “ Sar, gua suka sama
lo.” Sarah tak tau harus berbuat apa pun, menarik tangannya kembali dan keluar
dari restaurant untuk pulang.
◌
Hari sudah larut malam, namun sarah masih belum tidur juga. Ia masih
menangis mengingat kejadian tadi sore di restaurant. Tak dihiraukannya pesan
dan telepon dari Ryan yang terus berdering.
Please angkat
telepon gue, atau gua nekat kerumah lu tengah malem begini
From: ryan
Sarah yang tau mau masalahnya menjadi semakin rumit pun mengangkat
telepon dari Ryan yang tak lama kemudian bordering.
“ Akhirnya lo mau ngangat telepon gua Sar…” belum sempat Ryan
menyelesaikan kalimatnya. Sarah pun sudah marah-marah terhadap Ryan. “ Belum
puas lo ngancurin persahabatan gue sama Putri? Sekarang mau lo apa lagi?”
“ Gua ga ada niat ngancurin persahabatan lo Sar, gua cuma mau ngomong
yang sejujurnya.”
“ Gua ga
peduli lo mau jujur atau engga. Gua ga peduli lu suka sama siapa. Karena gua
emang ga pernah peduli apa pun tentang lo! Ngerti?!”
Telepon Sarah matikan. Ia pun segera mematikan hapenya. Ia tak ingin
diganggu siapa pun malam ini. Ia menangis tersedu-sedu hingga akhirnya ia
tertidur.
◌
Saat ia sampai di sekolah ia pun melihat tulisan di papan tulis “
Sarah, si tukang backstabber sahabatnya sendiri.” Bahkan ia duduk di bangkunya.
Ia melihat di kolong mejanya terdapat banyak kertas cemohan untu dirinya. Ia
tak pernah menyangka niat baik untu membantu sahabatnya akan berakhir seperti
ini. Bahkan saat beberapa orang melihatnya, banyak yang langsung berkata “ hai
backstabber” dengan nada yang begitu menyindir.
Karena tak tahan diperlakukan seperti ini, ia pun mengambil semua
kertas yang berisi cemohan tersebut dan lari menuju kelas Ryan. Tanpa permisi,
ia pun langsung masuk dan menghampiri ryan. Ryan yang kaget akan kehadiran
sarah pun langsung berdiri dari duduknya.
“ Ada apa Sar? Tumben dateng kesini. Buru-buru lagi.” Tanya Ryan
bingung.
Sarah pun menunjukkan tumpukan kertas yang berisi cemohan tersebut dan
berkata, “Puas lo ngancurin hidup gue?” lalu melemparkan kertas tersebut ke
wajah Ryan dan pergi meninggalkan kelas tersebut.
Ryan yang bingung pun membaca isi kertas tersebut dan langsung mengejar
sarah.
◌
Sarah pun dijauhi oleh teman-teman sekelasnya. Ia menjadi lebih pendiam
dan banyak melamun. Dini yang prihatin pun diam-diam mendekati Sarah saat ia
sedang tidak bersama Putri.
“ ngapain lo disini? Gatakut nanti gebetan lo gua backstab?” Ujar Sarah
kesal.
“ Sar, gua tau kok ini semua bukan salah lo.”
“ Kalo lo tau, kenapa lo ga ngelakuin sesuatu? Atau setidaknya belain
gua saat posisi gua kaya gini.”
“ Maafin gua Sar, gua juga gatau harus gimana.”
“ Lo tau din?
Gua ga pernah berniat buat ngedeketin Ryan sama sekali. Bahkan gua gapernah
nyapa dia duluan, kecuali dia yang nyapa gua. Niat gua tulus, Cuma mau bantuin
Putri doang”
“ Iya gua
ngerti Sar. Gua tau juga, sebenernya Putri ga marah sama lo, dia cuma bingung
harus melampiaskan ke siapa kemarahannya karena cintanya bertepuk sebelah
tangan.”
“ Oke gua bisa ngerti itu. Tapi untuk semua cemohan ini? Terlalu sakit
Din. Sorry, gua cuma manusia biasa yang masih punya batas kesabaran. Lagian
sebulan lagi kita lulus, setelah itu kita ga bakalan ketemu lagi, jadi gua
bakalan berusaha bertahan akan situasi ini kok. Thanks ya din.” Sarah pun pergi
ke kantin.
◌
“ Lo keterlaluan put!” Bentak Ryan pada Putri. “ Lo tau kan semua ini
bukan kesalahan Sarah? Kenapa lo tega ngelakuin semua ini ke sahabat lu
sendiri?”
“ Elo yang keterlaluan Yan. Kenapa lo masih suka sama Sarah padahal lo
tau kalo gua suka sama lo!”
“ Yaudah! Kenapa lo ga marah sama gua aja?”
“ Gabisa Yan.” Ujar Putri sambil berdiri menahan air mata. “ Karena gua
sayang sama lo.” Seketika air mata itu tumpah didalam pelukan Ryan.
Beberapa orang yang ada di kelas berteriak “ Ecieee” pada Putri dan
Ryan. Ryan hendak melepaskan pelukan Putri, namun Putri memeluknya terlalu
erat. Lalu Sarah pun masuk ke kelas dan melihat semuanya. Tiba-tiba entah
siapa, ada seseorang yang berkata, “ Sarah panas tuh ngeliatnya.” Sarah hanya
terdiam, namun Ryan segera melepaskan pelukannya Putri dan menghampiri Sarah.
“ Sar, ini ga seperti yang lo pikirin Sar.”
“ Udahlah Yan, santai aja kali.”
“ Sar, gua berani bersumpah Sar.”
“ Dih apaan sih lo? Lebay deh ah.”
“ Sarah, gua beneran sayang sama lo.” Seketika Ryan pun memeluk Sarah.
Sarah yang kaget pun meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Namun bukannya
Ryan melepaskan, ia malah semakin erat memeluk Sarah. Dan ada seseorang yang
menyelutuk, “ Wah, ini sih bukannya Sarah yang backstabber, tapi si Ryannya aja
yang mau sana, mau sini.” Ryan pun melepas pelukannya, Sarah yang mukanya
memerah karena kehabisan nafas, disenderkan pada bahunya. “ Iya, emang gua yang
brengsek! Puas lo semua?!” Lalu didudukkannya Sarah di bangkunya, dan Ryan pun
pergi kemudian.
◌
Hari ini sekolah mengadakan acara kemping disebuah hutan, dan seluruh
siswanya wajib mengikuti kegiatan ini. Dan karena ulah Putri, Sarah pun tak
mendapatkan kelompok sehingga ia terpaksa membangun tenda sendirian.
“ Sini gua bantuin.” Ujar Ryan mendekati Sarah. Karena Sarah memang tak
mengerti cara membuat tenda, ia pun membiarkan Ryan untuk membantunya.
Setelah tenda selesai dibuat, Sarah terlihat kurang enak badan pun
langsung masuk ke dalam tenda untuk tidur. “ Lo sakit?” Tanya Ryan, masuk
menghampiri Sarah. “ Engga kok.” Jawab sarah. “Nanti kalo butuh apa-apa bilang gua
aja ya.” Ujar Ryan membelai lembut rambut Sarah dan segera keluar dari tenda.
Ia tak mau ada seseorang yang melihatnya, dan membuat gossip lagi tentang
dirinya.
◌
Setelah acara api unggun, Ryan pun mulai mencari Sarah. Ia khawatir,
karena sejak tadi sore ia tidak melihat Sarah. Setelah semua temannya tidur, ia
masih mencari Sarah, dan berinisiatif untuk ke tendanya Sarah. Ternyata benar,
Sarah berada di dalam tenda, dengan muka pucat dan badan yang menggigil. “ Sar,
lo kenapa?” Tanya Ryan panik. Namun Sarah tidak menjawab, sepertinya ia sudah
sangat lemas.
Ryan pun segera kembali ke tendanya, dan mengambil obat-obatan miliknya
lalu kembali ke tenda Sarah. Didudukkannya Sarah pelan-pelan, lalu Ryan tutupi
badan Sarah dengan selimut. Namun sarah masih menggigil, dirangkulkan lah
pundak Sarah lalu Ryan minumi ia obat. Setelah beberapa lama kemudian,
menggigil Sarah sudah mulai berkurang, Ryan pun masih merangkul pundak Sarah
agar ia tidak terlalu kedinginan. Tiba-tiba Putri masuk ke dalam tenda
memergoki mereka berdua. “ Wah, ngapain lu daritadi berduaan dalem tenda ga ada
suara?” Suara Putri yang begitu keras membuat hampir seluruh anak-anak
terbangun, termasuk para guru. Mereka pun melihat Ryan dan Sarah yang memang
sedang berduaan di dalam tenda.
Ryan segera bangun dan membiarkan Sarah tetap duduk, karena ia begitu
lemas. “ Tunggu dulu, ini itu ga seperti yang kalian lihat.” Ujar Ryan
berteriak. “ Alah, udah ketangkep baah, masih aja ngeles.” Dan terdengar banyak
teriakan menyoraki Ryan dan Sarah.
Melihat banyak amukan massa seperti itu, para guru pun segera menenangkan
dan memanggil Ryan, Sarah, dan juga Putri.
◌
“ Coba Ryan, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!”
“ Jadi begini Pak, tadi itu Sarah
sedang sakit, badannya menggigil bahkan mukanya sudah pucat. Oleh sebab itu
saya mendatangi tendanya dan memberikannya obat.”
“ Bohong Pak! Tadi saya melihat
mereka berdua tertutup selimut!” Ujar Putri sambil berteriak.
Ryan dan Sarah kaget mendengar
pernyataan palsu tersebut pun hanya menganga.
“ Ini sudah keterlaluan Ryan!
Kamu juga Sarah!” Kini Pak Guru tersebut benar-benar marah.
Namun tiba-tiba Dini menghampiri mereka berempat. “ Lo keterlaluan Put!
Lo bikin Sarah dijauhin dari temen-temen dan sekarang ngefitnah mereka! Lo
jahat Put! Lo ngelakuin semua ini cuma karena rasa kecewa lu bahwa Ryan lebih
milih Sarah disbanding elu kan?!”
Putri yang mendengar semua pernyataan Dini tersebut hanya diam. Ia
sadar, bahwa apa yang ia lakuin selama ini sebenarnya salah, namun itu semua
tertutupi oleh rasa kekecawaannya terhadapa sikap Ryan yang tidak
memperdulikannya. Pak Guru yang menjadi semakin bingung pun mengambil suara.
“ Sebentar dulu, jadi apa yang sebenarnya terjadi?”
“ Sarah memang sedang sakit Pak. Oleh sebab itu Ryan ke tendanya untuk
memberikannya obat, dan berada disamping Sarah untuk mengecek keadaannya.”
Jawab Dini jujur.
“ Benar itu Ryan?” Tanya Pak Guru terhadap Ryan.
“ Iya Pak.”
“ Ya sudah kalau begitu. Sekarang kalian kembali ke tenda masing-masing.
Dini, kamu jagain Sarah yaa.”
“ Baik pak.”
Lalu Dini, Sarah, dan Ryan pun menuju tenda Sarah. Sedangkan Putri entah
hilang kemana.
“ Makasih banyak ya Din, gua gatau gimana jadinya tadi tanpa lo.” Ucap
Sarah.
“ Santai aja lagi. Mau gimana pun kan lo sahabat gua Sar.”
“ Makasih ya Din.” Ucap Sarah, lalu memeluk Dini.
“ Yah, gua mau dong dipeluk Sarah.” Ucap Ryan dari luar sambil melipat
tangan karena kedinginan.
“ dasar lo pinginan!” Ucap Dini dari dalam sambil melempar sandal ke arah
Ryan.
◌
Seluruh kelas pun sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pun
meminta maaf kepada Sarah. “ Sar, maafin gua ya. Gua udah jahat banget sama lo.
Gua gap antes jadi sahabat lo.” Ucap Putri menunduk seperti malu akan
perbuatannya. Sarah pun segeran memluk Putri, “ gue udah maafin lo kok. Lo
tetep sahabat terbaik gue.” Mendengar pernyataan itu, Putri pun memeluk sarah
kembali, “ Makasih ya Sar.”
◌
Sarah, Putri, dan Dini pun kembali menjadi akrab. Sarah pun menganggap
bahwa semua kejadian ini tak pernah terjadi. Ia sudah sangat besyukur dapat
bermain bersama kedua sahabatnya.
“ Sarah, gue mau ngomong sama lo.” Terdengar suara Ryan mendekati Sarah
yang tengah bercanda bersama kedua sahabatnya. “ Apa?” Tanya Sarah. “ Gue
sayang sama lo, lo mau ga jadi pacar gue?” Tanya Ryan begitu gugup. Sarah yang
mendengarkan pertanyaan tersebut pun sedikit kaget. Dilihatnya, kedua wajah
temannya, mereka semua member ekspresi yang menunjukkan udah-terima-aja, namun
sepertinya Sarah sudah tau apa yang harus dia lakukan, “ Maaf Yan, gua gabisa
nerima lo. Setidaknya sampai kedua sahabat gue udah punya pacar.” Ryan sedikit
kecewa dengan jawaban Sarah, begitupun kedua sahabatnya.
“ tapi berarti nanti lo bisa nerima gua kan Sar?” Tanya Ryan tak mau
menyerah.
“ mungkin.”
“ gue gabakal sabar nunggu saat itu Sar.”
Lalu Ryan pun keluar dari kelas. Dan Sarah kembali mengobrol dengan kedua
sahabatnya seperti tidak ada yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar