Jumat, 06 April 2012

penantian...


Sebuah pagi yang indah, meski berada didalam jemputan yang sesak, namun aku begitu bahagia. Sebuah sms ucapan selamat pagi darinya. Itulah alasannya.
Dia, Dwi Perdana, seorang pelajar yang seangkatan denganku, kelasnya bersebelahan denganku. Entahlah apa sebutannya untuk hubungan .kami, tapi aku sangat menyukainya. Dia adalah orang yang berhasil membuatku jatuh cinta lagi, setelah sekian lama aku lupa akan rasanya.
        Seketika jemputanku melewati daerah rumahnya, dan dia sedang keluar dengan mengayuh sepedanya.”betapa tampannya dia” gumamku dalam hati. Lalu dia mengikuti jemputanku dari belakang yang semakin lama semakin menjauh. Tentu saja, jemputanku adalah sebuah mobil –meskipun sudah tua- dan dia menggunakan sepeda. Disaat seperti ini aku berharap, mobil ini bisa memelankan kemudinya.
        Sesampainya disekolah, aku pun berpura pura membaca novel untuk menunggu kedatangannya, dan sebuah sapaan darinya. Menurutku, segala sesuatu yang ia lakukan begitu indah, dan begitu….. entahlah, mungkin aku mencintainya.
        “heh pagi pagi udah baca novel” katanya sambil memukul pundakku saat ia lewat. Aku hanya bisa menyengir lebar, dan melihatnya dari belakang. Rambut cepaknya yang sedikit basah, seragamnya yang tidak dia buat macam macam seperti anak lainnya, cara berjalannya yang cepat seperti orang sibuk, oooh betapa sempurnanya dia.
        Aku pun kembali ke kelas, setiap hari, aku selalu menjadi orang pertama yang datang bersama satu temanku, Fadhil yang kebetulan rumah kami dekat dan dia pun menjadi teman jemputanku. Dia juga adalah teman dari kecilku, entah mengapa aku selalu satu sekolah dengannya, namun kami tak pernah dekat. Dia hanya selalu datang untuk menggangguku.
        Aku pun duduk dan langsung mengerjakan pr yang tak sempat ku kerjakan dirumah. Dan seketika dia langsung duduk disampingku.
         “lagi ngerjain apa?” Tanya Fadhil.
        “ pr, mtk” jawabku tanpa menatapnya.
        “ajarin dong”
        “iya, ntar kalo gua udah selesai”
        “ga sopan banget sih, dari tadi diajak ngomong kaya gitu!” ujarnya yang langsung mengambil bukuku dan langsung berlari. Aku pun mengejarnya, sampai keluar kelas dan tiba tiba ia menabrak Dwi yang ingin masuk ke kelasku. Aku pun hanya diam dibelakang Fadhil tak tau harus bagaimana.
        “eh sorry ya wi” ujar Fadhil. “mau ngapain?” Tanya Fadhil lagi.
        “ mau ngasih ini nih ke Rani” jawab Dwi yang membawa sebuah botol yang berisi cat. “ini Ran catnya, maaf ya tinggal warna merah doang”
        “iya gapapa. Makasih ya. Bayar ga nih? Hehe” godaku
        “masa buat kamu bayar” jawabnya seraya pergi.
        Aku hanya menyengir lebar, antara senang dan malu padanya. Senang karena ucapannya tadi, dan malu karena ia melihat aku dan Fadhil melakukan hal kekanak kanakan. Namun apa peduliku, bahkan ia terlihat biasa saja seperti tak ada sesuatu yang aneh terjadi.


makasi ya catnya tadi. Hehe
send to: Dwi Dana

ku kirim pesan itu padanya. Aku selalu mencari bahan agar kami selalu bisa berkirim pesan singkat. Dan sejauh ini, setiap rencanaku selalu berhasil. Hari ini pun kami mengerjakan pr bersama melalui pesan singkat. Aku rela melakukan apapun agar aku selalu bersamanya.
       
Udah selesai kan prnya? Ngantuk nih udah malem. Tidur dulu ya, goodnight, nice dream :*
From: Dwi Dana

Aku yang sudah begitu mengantuk pun langsung tertidur. Namun tidurku begitu bahagia. Ya dia memang selalu membuatku bahagia. Bahkan melihatnya saja sudah membuatku bahagia. Aku beruntung memilikinya. “Benarkah aku memilikinya?” Gumamku dalam hati. Namun tak terjawab, karena alam bawah sadarku yang sudah mulai bekerja.


“Dwi itu udah punya pacar, gua lupa namanya. Pokonya beda kelas deh sama dia.” Seketika kata kata tersebut terus menggema dikepalaku. “Benarkah?”  Gumamku sendiri yang menahan air mata ini. Memang sudah seminggu ini kami tidak smsan, apakah ini sebabnya? “Kupikir ia menyukaiku juga.” Kembali kata kata itu hanya bisa terucap dalam hatiku saja.
“lo kenapa sih Ran? Tumben ga semangat gini” Tanya Dini, sahabatku yang merupakan teman sebangku juga.
“kata Satria, Dwi udah punya pacar” ucapku sambil menahan air mata.
“ah masa sih? Ntar coba gua bantu cari tau deh”
“beneran?”
“iyaa. Tapi syaratnya lo gaboleh cemburut kaya gini”
“iya deh iya” senyumku pun melebar. “Lo emang sahabat paling baik” ucapku dalam hati.


“gimana Din? Udah dapet infonya?” tanyaku cemas.
“tadi gua suruh Ayu nanya Dwi, katanya engga tuh” jawab Dini santai.
“beneran engga?”
“iyaaa”
“huaa makasih Diniii” aku pun langsung mencium pipi Dini. “Dasar satria sok tau” gumamku


Siang hari yang panas dan aku harus pergi kerumah Ayu untuk kerja kelompok bersama Dini dan Reno. Reno, haha terkadang aku tertawa mendengar namanya. Dia adalah pacar pertamaku, meski kami berpacaran hanya beberapa minggu, namun aku sudah dapat memastikan, bahwa aku salah pilih. Reno sebenarnya adalah sahabatku juga, entah mengapa kami bisa khilaf dan berpacaran. Bahkan kadang kami mentertawakan kejadian dahulu saat kami berpacaran, mulai dari sikapnya –jika menjadi seorang pacar- sangat overprotective, dan aku yang begitu polos dan cuek.
“inget ga dulu gua suka sms lo, sayang udah makan belum? Makan pake apa? Lagi dimana? Udah solat belum? Sama siapa?” kata Reno memulai flashback kami.
“haha iya, terus gua bales, terus pasti lo gabales lagi” jawabku menyindir.
“abisnya elo balesnya cuma udah, mie goreng, dirumah, udah, sendiri. Bukannya nanya balik gitu” ujarnya menyindir balik.
Setelah tugas kelompok kami selesai, kami pun berpamitan pulang. Dini pulang dijemput oleh seorang temannya. Dan aku pun pulang bersama Reno.
Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam tak berbicara. Reno sudah tau kebiasaanku, yang jarang mengobrol jika sedang berjalan, dan terbiasa untuk mengkhayal dengan duniaku sendiri.
“ gua denger denger, katanya lo lagi deket sama Dwi ya?”
“iya. Hehe”
Tiba tiba Reno menggenggam tanganku dan menghentikan langkahku.
“inget ya Ran, mau gua pacaran sama siapa pun, meskipun lo udah pacaran sama orang lain. Tapi rasa sayang gue cuma buat lo”
“Kalo sayang lo buat gue, kenapa lo ninggalin gue waktu itu.” Kembali kata kata itu tak bisa keluar dari mulut. Aku lebih memilih diam dan melanjutkan perjalanan. Reno pun tak bersuara lagi, kami berdua sama sama terdiam.


        “Fadhil, bisa ga sih lo tu berhenti jailin gue” ujarku kesal oleh ulahnya.
        “emangnya gua ngapain lo? Orang gua daritadi diem” ujarnya dengan mata yang masih menatapku.
        “lo itu usil banget sih!” ujarku dan menatapnya balik. Kami pun bertatapan selama beberapa menit sampai akhirnya seorang guru masuk ke kelas. Fadhil yang tak punya waktu untuk kembali ke tempat duduknya pun memilih duduk disampingku. “Manis juga” ujarku dalam hati.
        “heh berdua dong bukunya” ujar Fadhil kembali mengusikku.
        “siapa suruh duduk disini” jawabku mencibir
        “Rani, Fadhil kalau masih berisik keluar dari kelas ini!” bentak guru matematika itu.
        Aku pun menggesarkan buku agar Fadhil dapat melihatnya juga tanpa suara. Sepertinya Fadhil yang takut dikeluarkan dari kelas lebih memilih diam dan tidak menggangguku lagi.
        Setelah dua jam yang begitu tentram –karena Fadhil tak menggangguku- selesai. Bergantilah sekarang pelajaran bahasa inggris, pelajaran favoritku. Fadhil pun berdiri dan berjalan ke tempatnya. Betapa senang aku akhirnya ia pergi juga. Namun kebahagian itu tak bertahan lama saat ia kembali dan membawa tasnya. Kebetulan hari ini Dini memang tidak masuk karena sakit.
        “misi.” Ujarnya mengambil tasku yang kutaruh sengaja disebelah bangkuku.
        “ngapain lo?” tanyaku ketus.
        “mau duduk sini”
        “ga boleh!”
        “dih siapa lo ngelarang larang gua?”
        “tapi kan……………” aku lebih memilih tak meneruskan kata kataku. Toh aku tak akan pernah menang jika berdebat dengannya.
Guru bahasa inggris pun datang. Setiap kali pelajaran ini, meskipun aku bukan ketua kelas, aku selalu yang menyiapkan kelas, sesuai dengan permintaan teman teman dan guru tersebut. Setelah menyiapkan kelas, ternyata guru tersebut memberikan pretest. Dengan mudahnya aku menjawab, disaar teman temanku yang lainnya bingung. Aku pun maju dan menuliskan jawabanku di papan tulis, dan kembali ke tempat dudukku.
“pinter banget sih lo” ujar Fadhil memulai untuk menggodaku.
Aku hanya diam dan duduk tak memperdulikannya.


“Tia itu suka tau sama Dwi” ujar salah seorang temanku. Ya memang, sebagian anak di kelas ku sudah tau bahwa aku menyukainya.
“yaudah biarin aja” jawabku seakan akan tak peduli. Meski sebenarnya aku sangat takut jika Dwi diambil orang lain. Namun seketika pertanyaan itu muncul kembali, “benarkah ia milikku?” Namun aku tak ingin memikirkannya. Aku pun kembali membaca novel yang baru kebeli kemarin.


“emangnya lo suka cowok yang kaya gimana sih?”
“uum, tapi kalo gua kasih tau lo jangan ketawa yaaa”
“iyaaa Raniiii”
“gue suka sama cowo yang beralis tebel”
“ha? Hahaha” terdengar suaranya tertawa terbahak bahak
“iih tadi kan udah janji gaboleh ketawa”
“haha iya deh maaf maaf”
“kalo lo sendiri suka sama cewe kaya gimana?”
“selera gua berubah ubah”
“yaudah kalo sekarang selera lo kaya gimana?”
“gue suka sama cewe yang rambutnya panjang”
“terus?”
“yang hidungnya mancung sama dagunya lancip”
Seketika teringat aku pada pembicaraanku dalam telpon dengan Dwi. Semua ciri ciri yang dikatakannya sama seperti aku. Aku hanya berharap itu benar benar aku.
Namun Tia, Tia adalah wanita yang begitu pintar, dan pendiam, ku akui dia memang cantik. Tapi ciri ciri yang dimiliki Tia tidaklah seperti selera Dwi. Aku cukup lega untuk mengingatnya, namun seketika aku teringat, “mungkinkah selera dwi akan berubah?”


Kelas sebelah –kelas Dwi- begitu ramai istirahat ini. Entahlah, terdengar suara anak anak berteriak “terima terima” dan sebagian bertepuk tangan.
“Palingan lagi nembak orang” pikirku dalam hati dan melanjutkan membaca novel. ”Sebentar, nembak orang?” Tanpa berpikir panjang aku pun berlari dan bergabung dalam kerumunan orang banyak itu. Kulihat seseorang yang begitu kenali tengah hendak memberi bunga pada seorang wanita. Dan sekarang wanita itu menerimanya. Ya, benar Dwi menembak Tia, perempuan yang sebenarnya sudah menyukainya dari lama.
Seketika kakiku lemas, aku berjalan dengan menahan air mata menuju kamar mandi. Aku harap tak ada seorang pun yang melihatku seperti ini.
Sesampainya di kamar mandi, air mata ini tak tertahankan. Jatuh sesukanya. “Jadi ini alasan Dwi tak pernah menghubungiku lagi?”  Berjuta pertanyaan terdapat didalam kepalaku. Namun tak ada satu pun yang keluar dari mulut ini. Aku hanya bisa menyimpannya, dan memaki diriku sendiri. Betapa bodohnya aku yang tak bisa melihat keganjilan akhir akhir ini. Betapa bodohnya aku yang terlalu menganggap lebih perhatian Dwi selama ini. Dan betapa bodohnya aku mencintainya…


Aku masih sakit, terlalu sakit untuk menceritakan ini pada siapa pun, termasuk kepada sahabatku. Aku menjadi begitu diam beberapa hari ini. Bahkan aku tak terlihat bersemangat untuk berangkat sekolah. Fadhil yang melihat perubahan sikapku semakin jadi menjailiku. Namun aku enggan untuk membalasnya, aku tak punya kekuatan, seakan akan kekuatanku terkuras habis untuk melihat kejadian beberapa hari yang lalu.
Sebenarnya para sahabatku sudah tau apa yang terjadi padaku. Mereka sudah mencoba untuk menghiburku, namun sepertinya usaha mereka tak berhasil. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk diam dan menungguku untuk mau berbicara.
Kali ini Fadhil mencoba menjailiku dengan merebut novel yang tengah asyik kubaca. Aku pun mulai jera dengan ulahnya
“bisa ga sih lo berhenti ganggu gue?! Gua benci elo! Gue benci semua orang!” bentakku.
Tiba tiba Fadhil diam dan mengembalikan novel itu padaku. Namun aku sudah enggan untuk membacanya. Fadhil pun duduk disampingku.
“maafin gue, kalo gue ganggu elo terus. Maafin gue yang bikin lo benci sama gue”
Seketika aku teringat akan kata kata yang telah kuucapkan, sebenarnya aku tidak membencinya, aku hanya kesal pada dia. Namun tiba tiba air mata ini jatuh tak tertahankan, aku menangis sejadinya. Fadhil yang hanya diam, membelai kepalaku dan menaruh dipundaknya. Aku menangis makin menjadi jadi hingga semua energiku terkuras habis dan tak mampu mengeluarkan air mata lagi.
“gue tau kok apa yang terjadi” sambil membelai kepalaku. “jika seseorang yang elo cintai pergi ninggalin lo, percayalah bahwa itu hanya cara Tuhan untuk mempertemukanmu dengan orang yang lebih baik”
Aku menatap wajahnya, melepaskan belaian tangannya dari kepalaku, dan menyeka air mataku yang masih tertinggal di pipiku. “makasih ya” ujarku.
Dan itulah saat pertama aku merasakan kecanggungan saat bersama dirinya.


Dua bulan telah berlalu, aku sudah mulai merelakan Dwi untuk Tia. Aku berharap Tia dapat mencintai Dwi lebih daripada aku. Aku berharap Dwi tidak salah untuk memilih Tia. “Semoga lo bahagia sama pilihan lo” ujarku dalam hati saat melihat mereka jalan berdua.
Aku pun percaya kata Fadhil, bahwa mungkin ini memang cara Tuhan untuk mempertemukanku dengan orang yang lebih baik, atau bahkan yang terbaik untukku.
Aku pun berharap Reno adalah orang yang dapat menyembuhkan luka ini. Karena setidaknya aku pernah mencintainya juga, dan ucapannya dahulu membuatku berpikir bahwa ia akan kembali padaku.
Namun ternyata Reno berpacaran dengan orang yang entahlah, aku tak mengenal orang itu, kudengar namanya Gita. Aku pun hanya bisa menghela nafas untuk kedua kalinya. Tapi aku percaya akan omongan Fadhil. “Mungkin tinggal tunggu waktunya” gumamku dalam hati.


“Ran lo inget ga sih waktu dulu kita sempet hamper ciuman gara gara kita didorong sama temen temen kita?” ujar Fadhil yang tiba tiba flashback ke masa kecil
“ha? Yang mana?” aku pura pura lupa. Sebenarnya mana mungkin aku melupakan kejadian itu. Tapi aku hanya malas membahas masa kecil kami yang begitu suram.
“haha, eh lo mau mesen apa? Biar sekalian gua pesenin nih” Tanya Fadhil.
“apa aja deh sama kaya lo.”
“yaudah lo nyari tempat duduk yang kosong ya, buat gue juga jangan lupa.”
“iye iye.”
Aku pun mencari tempat duduk yang masih kosong, kantin biasanya penuh kalau istirahat, untunglah kami datang saat kantin masih belum terlalu ramai. Jadi aku bisa menemukan tempat duduk untuk aku dan Fadhil dengan mudah.
“nih, gue pesenin nasi uduk bude kesukaan lo.” Ujar Fadhil yang datang dari keramaian.
“waah makasih yaa” gumamku yang langsung mengambil piring tersebut.
Aku pun memakan nasi uduk itu dengan lahap, begitu juga Fadhil. Selera kami memang tidak jauh beda. Aku pun tertawa dalam hati, lucu ya persamaan yang seharusnya bisa membuat kita akrab malah menjadi alasan mengapa selama ini aku tidak pernah akur dengannya.
Sesekali aku mencuri pandang pada Fadhil yang tengah lahap memakan nasi uduknya. Sebenarnya ia manis dengan alis matanya yang tebal –seperti seleraku- dan rambutnya yang sedikit ikal. Hanya saja dia tidak pernah memperdulikan gaya, dia selalu tampil apa adanya, atau mungkin seadanya. Aku pun tertawa dalam hati.
“kenapa lo ketawa tawa gajelas?” Tanya Fadhil yang melahap suap terakhir nasi uduknya.
“gapapa.” Jawabku malu karena tertangkap basah.
“eh Ran lo sadar ga si kalo kita itu jodoh?”
Aku yang sedang minum mendengar pernyataan itu pun langsung terdesak. Kali ini fadhil mengeluarkan sebatang coklat yang berukuran besar.
“Ran sebenernya, selama ini gua suka sama lo. Itu sebabnya gua selalu jailin elu, gua cuma mau cari perhatian lo doang.” Tiba tiba Fadhil pun terdiam “tapi lo gapernah peka sama perasaan gue” lanjutnya lirih.
Aku pun terdiam. Kembali aku memaki maki diriku sendiri, mengapa bisa begitu bodohnya aku sampai tidak peka dengan perasaan Fadhil selama ini? “maafin gue selama ini ya dhil” ujarku lemas.
“lo mau ga jadi pacar gue?” ujar Fadhil, dengan menatap mataku tajam “Kalo lo mau, lo gigit coklat ini. Kalo engga, lo balikin coklat ini”
Seketika aku melihat kantin begitu ramai mengelilingi kami berdua. Terdengat teriakan “gigit gigit gigit” dan tepuk tangan yang begitu meriah. Bahkan aku meliat Dwi dan Tia diantara kerumunan itu.
“Udah saatnya gue ngedapetin kebahagian gue sendiri, tanpa lo, Dwi” gumamku dalam hati. Aku pun mengambil coklat itu dan mengembalikannya pada Fadhil. Terlihat muka Fadhil begitu sedih, bahkan kerumunan itu pun terlihat kecewa. “gua mau, lo suapin coklat ini ke gue” ujarku dengan senyum lebar pada Fadhil.
Senyum itu pun terlihat pada wajah Fadhil. Ia pun mengambil coklat itu dan menyuapinya padaku. Kerumunan itu pun terlihat senang dengan sorak sorai gembira. Aku pun hanya tersenyum melihatnya. Lalu aku menarik tangan Fadhil, dan pergi menjauhi kerumunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar