Sebuah pagi yang
indah, meski berada didalam jemputan yang sesak, namun aku begitu bahagia.
Sebuah sms ucapan selamat pagi darinya. Itulah alasannya.
Dia, Dwi Perdana,
seorang pelajar yang seangkatan denganku, kelasnya bersebelahan denganku.
Entahlah apa sebutannya untuk hubungan .kami, tapi aku sangat menyukainya. Dia
adalah orang yang berhasil membuatku jatuh cinta lagi, setelah sekian lama aku
lupa akan rasanya.
Seketika jemputanku melewati daerah rumahnya, dan dia sedang keluar
dengan mengayuh sepedanya.”betapa tampannya dia” gumamku dalam hati.
Lalu dia mengikuti jemputanku dari belakang yang semakin lama semakin menjauh. Tentu saja, jemputanku adalah
sebuah mobil –meskipun sudah tua- dan dia menggunakan sepeda. Disaat seperti
ini aku berharap, mobil ini bisa memelankan kemudinya.
Sesampainya disekolah, aku pun berpura pura membaca novel untuk menunggu
kedatangannya, dan sebuah sapaan darinya. Menurutku, segala sesuatu yang ia
lakukan begitu indah, dan begitu….. entahlah, mungkin aku mencintainya.
“heh pagi pagi udah baca novel” katanya sambil memukul pundakku saat ia
lewat. Aku hanya bisa menyengir lebar, dan melihatnya dari belakang. Rambut
cepaknya yang sedikit basah, seragamnya yang tidak dia buat macam macam seperti
anak lainnya, cara berjalannya yang cepat seperti orang sibuk, oooh betapa
sempurnanya dia.
Aku pun kembali ke kelas, setiap hari, aku selalu menjadi orang pertama
yang datang bersama satu temanku, Fadhil yang kebetulan rumah kami dekat dan
dia pun menjadi teman jemputanku. Dia juga adalah teman dari kecilku, entah
mengapa aku selalu satu sekolah dengannya, namun kami tak pernah dekat. Dia
hanya selalu datang untuk menggangguku.
Aku pun duduk dan langsung mengerjakan pr yang tak sempat ku kerjakan
dirumah. Dan seketika dia langsung duduk disampingku.
“lagi ngerjain apa?” Tanya Fadhil.
“ pr, mtk” jawabku tanpa menatapnya.
“ajarin dong”
“iya, ntar kalo gua udah selesai”
“ga sopan banget sih, dari tadi diajak ngomong kaya gitu!” ujarnya yang
langsung mengambil bukuku dan langsung berlari. Aku pun mengejarnya, sampai
keluar kelas dan tiba tiba ia menabrak Dwi yang ingin masuk ke kelasku. Aku pun
hanya diam dibelakang Fadhil tak tau harus bagaimana.
“eh sorry ya wi” ujar Fadhil. “mau ngapain?” Tanya Fadhil lagi.
“ mau ngasih ini nih ke Rani” jawab Dwi yang membawa sebuah botol yang
berisi cat. “ini Ran catnya, maaf ya tinggal warna merah doang”
“iya gapapa. Makasih ya. Bayar ga nih? Hehe” godaku
“masa buat kamu bayar” jawabnya seraya pergi.
Aku hanya menyengir lebar, antara senang dan malu padanya. Senang karena
ucapannya tadi, dan malu karena ia melihat aku dan Fadhil melakukan hal kekanak
kanakan. Namun apa peduliku, bahkan ia terlihat biasa saja seperti tak ada
sesuatu yang aneh terjadi.
◌
makasi ya
catnya tadi. Hehe
send to:
Dwi Dana
ku kirim pesan itu
padanya. Aku selalu mencari bahan agar kami selalu bisa berkirim pesan singkat.
Dan sejauh ini, setiap rencanaku selalu berhasil. Hari ini pun kami mengerjakan
pr bersama melalui pesan singkat. Aku rela melakukan apapun agar aku selalu
bersamanya.
Udah selesai kan prnya?
Ngantuk nih udah malem. Tidur dulu ya, goodnight, nice dream :*
From: Dwi Dana
Aku yang sudah
begitu mengantuk pun langsung tertidur. Namun tidurku begitu bahagia. Ya dia
memang selalu membuatku bahagia. Bahkan melihatnya saja sudah membuatku bahagia.
Aku beruntung memilikinya. “Benarkah aku memilikinya?” Gumamku dalam
hati. Namun tak terjawab, karena alam bawah sadarku yang sudah mulai bekerja.
◌
“Dwi itu udah punya
pacar, gua lupa namanya. Pokonya beda kelas deh sama dia.” Seketika kata kata tersebut terus menggema dikepalaku. “Benarkah?” Gumamku sendiri yang menahan air mata ini.
Memang sudah seminggu ini kami tidak smsan, apakah ini sebabnya? “Kupikir ia
menyukaiku juga.” Kembali kata kata itu hanya bisa terucap dalam hatiku
saja.
“lo kenapa sih Ran?
Tumben ga semangat gini” Tanya Dini, sahabatku yang merupakan teman sebangku
juga.
“kata Satria, Dwi
udah punya pacar” ucapku sambil menahan air mata.
“ah masa sih? Ntar
coba gua bantu cari tau deh”
“beneran?”
“iyaa. Tapi
syaratnya lo gaboleh cemburut kaya gini”
“iya deh iya”
senyumku pun melebar. “Lo emang sahabat paling baik” ucapku dalam hati.
◌
“gimana Din? Udah
dapet infonya?” tanyaku cemas.
“tadi gua suruh Ayu
nanya Dwi, katanya engga tuh” jawab Dini santai.
“beneran engga?”
“iyaaa”
“huaa makasih
Diniii” aku pun langsung mencium pipi Dini. “Dasar satria sok tau” gumamku
◌
Siang hari yang
panas dan aku harus pergi kerumah Ayu untuk kerja kelompok bersama Dini dan
Reno. Reno, haha terkadang aku tertawa mendengar namanya. Dia adalah pacar
pertamaku, meski kami berpacaran hanya beberapa minggu, namun aku sudah dapat
memastikan, bahwa aku salah pilih. Reno sebenarnya adalah sahabatku juga, entah
mengapa kami bisa khilaf dan berpacaran. Bahkan kadang kami mentertawakan
kejadian dahulu saat kami berpacaran, mulai dari sikapnya –jika menjadi seorang
pacar- sangat overprotective, dan aku yang begitu polos dan cuek.
“inget ga dulu gua
suka sms lo, sayang udah makan belum? Makan pake apa? Lagi dimana? Udah solat
belum? Sama siapa?” kata Reno memulai flashback kami.
“haha iya, terus
gua bales, terus pasti lo gabales lagi” jawabku menyindir.
“abisnya elo
balesnya cuma udah, mie goreng, dirumah, udah, sendiri. Bukannya nanya balik
gitu” ujarnya menyindir balik.
Setelah tugas
kelompok kami selesai, kami pun berpamitan pulang. Dini pulang dijemput oleh
seorang temannya. Dan aku pun pulang bersama Reno.
Sepanjang
perjalanan pulang, aku hanya diam tak berbicara. Reno sudah tau kebiasaanku,
yang jarang mengobrol jika sedang berjalan, dan terbiasa untuk mengkhayal
dengan duniaku sendiri.
“ gua denger
denger, katanya lo lagi deket sama Dwi ya?”
“iya. Hehe”
Tiba tiba Reno
menggenggam tanganku dan menghentikan langkahku.
“inget ya Ran, mau
gua pacaran sama siapa pun, meskipun lo udah pacaran sama orang lain. Tapi rasa
sayang gue cuma buat lo”
“Kalo sayang lo
buat gue, kenapa lo ninggalin gue waktu itu.” Kembali kata kata itu tak bisa keluar dari mulut. Aku lebih memilih
diam dan melanjutkan perjalanan. Reno pun tak bersuara lagi, kami berdua sama
sama terdiam.
◌
“Fadhil, bisa ga sih lo tu berhenti jailin gue” ujarku kesal oleh
ulahnya.
“emangnya gua ngapain lo? Orang gua daritadi diem” ujarnya dengan mata
yang masih menatapku.
“lo itu usil banget sih!” ujarku dan menatapnya balik. Kami pun
bertatapan selama beberapa menit sampai akhirnya seorang guru masuk ke kelas.
Fadhil yang tak punya waktu untuk kembali ke tempat duduknya pun memilih duduk
disampingku. “Manis juga” ujarku dalam hati.
“heh berdua dong bukunya” ujar Fadhil kembali mengusikku.
“siapa suruh duduk disini” jawabku mencibir
“Rani, Fadhil kalau masih berisik keluar dari kelas ini!” bentak guru
matematika itu.
Aku pun menggesarkan buku agar Fadhil dapat melihatnya juga tanpa suara.
Sepertinya Fadhil yang takut dikeluarkan dari kelas lebih memilih diam dan
tidak menggangguku lagi.
Setelah dua jam yang begitu tentram –karena Fadhil tak menggangguku-
selesai. Bergantilah sekarang pelajaran bahasa inggris, pelajaran favoritku.
Fadhil pun berdiri dan berjalan ke tempatnya. Betapa senang aku akhirnya ia
pergi juga. Namun kebahagian itu tak bertahan lama saat ia kembali dan membawa
tasnya. Kebetulan hari ini Dini memang tidak masuk karena sakit.
“misi.” Ujarnya mengambil tasku yang kutaruh sengaja disebelah bangkuku.
“ngapain lo?” tanyaku ketus.
“mau duduk sini”
“ga boleh!”
“dih siapa lo ngelarang larang gua?”
“tapi kan……………” aku lebih memilih tak meneruskan kata kataku. Toh aku
tak akan pernah menang jika berdebat dengannya.
Guru bahasa inggris
pun datang. Setiap kali pelajaran ini, meskipun aku bukan ketua kelas, aku
selalu yang menyiapkan kelas, sesuai dengan permintaan teman teman dan guru
tersebut. Setelah menyiapkan kelas, ternyata guru tersebut memberikan pretest.
Dengan mudahnya aku menjawab, disaar teman temanku yang lainnya bingung. Aku
pun maju dan menuliskan jawabanku di papan tulis, dan kembali ke tempat dudukku.
“pinter banget sih
lo” ujar Fadhil memulai untuk menggodaku.
Aku hanya diam dan
duduk tak memperdulikannya.
◌
“Tia itu suka tau
sama Dwi” ujar salah seorang temanku. Ya memang, sebagian anak di kelas ku
sudah tau bahwa aku menyukainya.
“yaudah biarin aja”
jawabku seakan akan tak peduli. Meski sebenarnya aku sangat takut jika Dwi
diambil orang lain. Namun seketika pertanyaan itu muncul kembali, “benarkah
ia milikku?” Namun aku tak ingin memikirkannya. Aku pun kembali membaca
novel yang baru kebeli kemarin.
◌
“emangnya lo suka
cowok yang kaya gimana sih?”
“uum, tapi kalo gua
kasih tau lo jangan ketawa yaaa”
“iyaaa Raniiii”
“gue suka sama cowo
yang beralis tebel”
“ha? Hahaha”
terdengar suaranya tertawa terbahak bahak
“iih tadi kan udah
janji gaboleh ketawa”
“haha iya deh maaf
maaf”
“kalo lo sendiri
suka sama cewe kaya gimana?”
“selera gua berubah
ubah”
“yaudah kalo
sekarang selera lo kaya gimana?”
“gue suka sama cewe
yang rambutnya panjang”
“terus?”
“yang hidungnya
mancung sama dagunya lancip”
Seketika teringat
aku pada pembicaraanku dalam telpon dengan Dwi. Semua ciri ciri yang
dikatakannya sama seperti aku. Aku hanya berharap itu benar benar aku.
Namun Tia, Tia
adalah wanita yang begitu pintar, dan pendiam, ku akui dia memang cantik. Tapi
ciri ciri yang dimiliki Tia tidaklah seperti selera Dwi. Aku cukup lega untuk
mengingatnya, namun seketika aku teringat, “mungkinkah selera dwi akan
berubah?”
◌
Kelas sebelah
–kelas Dwi- begitu ramai istirahat ini. Entahlah, terdengar suara anak anak
berteriak “terima terima” dan sebagian bertepuk tangan.
“Palingan lagi
nembak orang” pikirku dalam hati dan melanjutkan
membaca novel. ”Sebentar, nembak orang?” Tanpa berpikir panjang aku pun
berlari dan bergabung dalam kerumunan orang banyak itu. Kulihat seseorang yang
begitu kenali tengah hendak memberi bunga pada seorang wanita. Dan sekarang
wanita itu menerimanya. Ya, benar Dwi menembak Tia, perempuan yang sebenarnya
sudah menyukainya dari lama.
Seketika kakiku
lemas, aku berjalan dengan menahan air mata menuju kamar mandi. Aku harap tak
ada seorang pun yang melihatku seperti ini.
Sesampainya di
kamar mandi, air mata ini tak tertahankan. Jatuh sesukanya. “Jadi ini alasan
Dwi tak pernah menghubungiku lagi?” Berjuta pertanyaan terdapat didalam kepalaku.
Namun tak ada satu pun yang keluar dari mulut ini. Aku hanya bisa menyimpannya,
dan memaki diriku sendiri. Betapa bodohnya aku yang tak bisa melihat keganjilan
akhir akhir ini. Betapa bodohnya aku yang terlalu menganggap lebih perhatian
Dwi selama ini. Dan betapa bodohnya aku mencintainya…
◌
Aku masih sakit,
terlalu sakit untuk menceritakan ini pada siapa pun, termasuk kepada sahabatku.
Aku menjadi begitu diam beberapa hari ini. Bahkan aku tak terlihat bersemangat
untuk berangkat sekolah. Fadhil yang melihat perubahan sikapku semakin jadi
menjailiku. Namun aku enggan untuk membalasnya, aku tak punya kekuatan, seakan
akan kekuatanku terkuras habis untuk melihat kejadian beberapa hari yang lalu.
Sebenarnya para
sahabatku sudah tau apa yang terjadi padaku. Mereka sudah mencoba untuk
menghiburku, namun sepertinya usaha mereka tak berhasil. Akhirnya mereka pun
memutuskan untuk diam dan menungguku untuk mau berbicara.
Kali ini Fadhil
mencoba menjailiku dengan merebut novel yang tengah asyik kubaca. Aku pun mulai
jera dengan ulahnya
“bisa ga sih lo
berhenti ganggu gue?! Gua benci elo! Gue benci semua orang!” bentakku.
Tiba tiba Fadhil
diam dan mengembalikan novel itu padaku. Namun aku sudah enggan untuk
membacanya. Fadhil pun duduk disampingku.
“maafin gue, kalo
gue ganggu elo terus. Maafin gue yang bikin lo benci sama gue”
Seketika aku
teringat akan kata kata yang telah kuucapkan, sebenarnya aku tidak membencinya,
aku hanya kesal pada dia. Namun tiba tiba air mata ini jatuh tak tertahankan,
aku menangis sejadinya. Fadhil yang hanya diam, membelai kepalaku dan menaruh
dipundaknya. Aku menangis makin menjadi jadi hingga semua energiku terkuras
habis dan tak mampu mengeluarkan air mata lagi.
“gue tau kok apa
yang terjadi” sambil membelai kepalaku. “jika seseorang yang elo cintai pergi
ninggalin lo, percayalah bahwa itu hanya cara Tuhan untuk mempertemukanmu
dengan orang yang lebih baik”
Aku menatap
wajahnya, melepaskan belaian tangannya dari kepalaku, dan menyeka air mataku
yang masih tertinggal di pipiku. “makasih ya” ujarku.
Dan itulah saat
pertama aku merasakan kecanggungan saat bersama dirinya.
◌
Dua bulan telah
berlalu, aku sudah mulai merelakan Dwi untuk Tia. Aku berharap Tia dapat
mencintai Dwi lebih daripada aku. Aku berharap Dwi tidak salah untuk memilih
Tia. “Semoga lo bahagia sama pilihan lo” ujarku dalam hati saat melihat
mereka jalan berdua.
Aku pun percaya
kata Fadhil, bahwa mungkin ini memang cara Tuhan untuk mempertemukanku dengan
orang yang lebih baik, atau bahkan yang terbaik untukku.
Aku pun berharap
Reno adalah orang yang dapat menyembuhkan luka ini. Karena setidaknya aku
pernah mencintainya juga, dan ucapannya dahulu membuatku berpikir bahwa ia akan
kembali padaku.
Namun ternyata Reno
berpacaran dengan orang yang entahlah, aku tak mengenal orang itu, kudengar
namanya Gita. Aku pun hanya bisa menghela nafas untuk kedua kalinya. Tapi aku
percaya akan omongan Fadhil. “Mungkin tinggal tunggu waktunya” gumamku
dalam hati.
◌
“Ran lo inget ga
sih waktu dulu kita sempet hamper ciuman gara gara kita didorong sama temen
temen kita?” ujar Fadhil yang tiba tiba flashback ke masa kecil
“ha? Yang mana?”
aku pura pura lupa. Sebenarnya mana mungkin aku melupakan kejadian itu. Tapi
aku hanya malas membahas masa kecil kami yang begitu suram.
“haha, eh lo mau
mesen apa? Biar sekalian gua pesenin nih” Tanya Fadhil.
“apa aja deh sama
kaya lo.”
“yaudah lo nyari
tempat duduk yang kosong ya, buat gue juga jangan lupa.”
“iye iye.”
Aku pun mencari
tempat duduk yang masih kosong, kantin biasanya penuh kalau istirahat,
untunglah kami datang saat kantin masih belum terlalu ramai. Jadi aku bisa
menemukan tempat duduk untuk aku dan Fadhil dengan mudah.
“nih, gue pesenin
nasi uduk bude kesukaan lo.” Ujar Fadhil yang datang dari keramaian.
“waah makasih yaa”
gumamku yang langsung mengambil piring tersebut.
Aku pun memakan
nasi uduk itu dengan lahap, begitu juga Fadhil. Selera kami memang tidak jauh
beda. Aku pun tertawa dalam hati, lucu ya persamaan yang seharusnya bisa
membuat kita akrab malah menjadi alasan mengapa selama ini aku tidak pernah
akur dengannya.
Sesekali aku
mencuri pandang pada Fadhil yang tengah lahap memakan nasi uduknya. Sebenarnya
ia manis dengan alis matanya yang tebal –seperti seleraku- dan rambutnya yang
sedikit ikal. Hanya saja dia tidak pernah memperdulikan gaya, dia selalu tampil
apa adanya, atau mungkin seadanya. Aku pun tertawa dalam hati.
“kenapa lo ketawa
tawa gajelas?” Tanya Fadhil yang melahap suap terakhir nasi uduknya.
“gapapa.” Jawabku
malu karena tertangkap basah.
“eh Ran lo sadar ga
si kalo kita itu jodoh?”
Aku yang sedang
minum mendengar pernyataan itu pun langsung terdesak. Kali ini fadhil
mengeluarkan sebatang coklat yang berukuran besar.
“Ran sebenernya,
selama ini gua suka sama lo. Itu sebabnya gua selalu jailin elu, gua cuma mau
cari perhatian lo doang.” Tiba tiba Fadhil pun terdiam “tapi lo gapernah peka
sama perasaan gue” lanjutnya lirih.
Aku pun terdiam.
Kembali aku memaki maki diriku sendiri, mengapa bisa begitu bodohnya aku sampai
tidak peka dengan perasaan Fadhil selama ini? “maafin gue selama ini ya dhil”
ujarku lemas.
“lo mau ga jadi
pacar gue?” ujar Fadhil, dengan menatap mataku tajam “Kalo lo mau, lo gigit
coklat ini. Kalo engga, lo balikin coklat ini”
Seketika aku
melihat kantin begitu ramai mengelilingi kami berdua. Terdengat teriakan “gigit
gigit gigit” dan tepuk tangan yang begitu meriah. Bahkan aku meliat Dwi dan Tia
diantara kerumunan itu.
“Udah saatnya gue
ngedapetin kebahagian gue sendiri, tanpa lo, Dwi” gumamku dalam hati. Aku pun mengambil coklat itu dan mengembalikannya
pada Fadhil. Terlihat muka Fadhil begitu sedih, bahkan kerumunan itu pun
terlihat kecewa. “gua mau, lo suapin coklat ini ke gue” ujarku dengan senyum
lebar pada Fadhil.
Senyum itu pun
terlihat pada wajah Fadhil. Ia pun mengambil coklat itu dan menyuapinya padaku.
Kerumunan itu pun terlihat senang dengan sorak sorai gembira. Aku pun hanya
tersenyum melihatnya. Lalu aku menarik tangan Fadhil, dan pergi menjauhi
kerumunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar