Rabu, 30 Mei 2012

Perubahan

"Abu-abu" ya itulah satu kata penjelasan akan situasi ini. Aku tak tau harus bagaimana. Haruskah aku membuatnya menjadi hitam saja? Atau haruskah aku mencoba sedikit demi sedikit mengembalikan putihnya
Semuanya terlihat abstrak. Entah harus bagaimana aku menjelaskan. Aku pun tak tau langkah apa yang harus kuambil. Haruskah aku terus maju untuk melanjutkan perjuangan ini? Namun aku tak tau apakah ini perjuangan yang tepat. Atau memang seharusnya aku mundur? Entahlah, dengan mengingat semua yang tlah terjadi, kurasa aku tlah berjalan terlalu jauh. Berhenti disini? ya itulah yang terjadi sekarang. Aku tau situasi ini tak boleh terus berlangsung, tapi aku takut akan perubahan. Meski hati kecilku menginginkannya.....

Senin, 21 Mei 2012

Somebody That I Used To Know

Hayhuphaphahap. Gue punya lagu yang lagi seneng banget gue dengerin. Ya lo tau lah apa alasannya, behind that song, inside that lyric. Huehehe, okay its not a time to galau-_-
Lagu ini sebenernya dinyanyiin sama Gotye Ft Kimbra. Gakenal? Sama gue juga engga. Wkwk *-_- Tapi gue lebih suka versi gleenya. Iya gue emang gleek-_- tapi bukan itu alasannya. Alasannya adalah di versi glee lagu ini dinyanyiin sama Blaine, actor ganteng yang sayang harus berperan gay di film itu-_- dan saat dinyanyiin Blaine, lagu ini jadi lebih tinggi nadanya, dan dengan suara khasnya Blaine ngebuat lagu ini bener-bener………………………aahhh can’t describe with word. Kalo mau tau lagunya, coba download aja di 4shared. Udah ah cekidot ini dia lirik lagunya.


Somebody That I Used To Know 

Now and then I think of when we were together
Like when you said you felt so happy you could die

Told myself that you were right for me
But felt so lonely in your company
But that was love and it's an ache I still remember
You can get addicted to a certain kind of sadness
Like resignation to the end, always the end
So when we found that we could not make sense
Well you said that we would still be friends
But I'll admit that I was glad it was over
But you didn't have to cut me off
Make out like it never happened and that we were nothing
And I don't even need your love
But you treat me like a stranger and I feel so rough
No you didn't have to stoop so low
Have your friends collect your records and then change your number
I guess that I don't need that though
Now you're just somebody that I used to know
Now you're just somebody that I used to know
Now you're just somebody that I used to know
Now and then I think of all the times you screwed me over
Part of me believing it was always something that I'd done
But I don't wanna live that way
Reading into every word you say
You said that you could let it go
And I wouldn't catch you hung up on somebody that you used to know
But you didn't have to cut me off
Make out like it never happened and that we were nothing
And I don't even need your love
But you treat me like a stranger and I feel so rough
And you didn't have to stoop so low
Have your friends collect your records and then change your number
I guess that I don't need that though
Now you're just somebody that I used to know
Somebody
(I used to know)
Somebody
(Now you're just somebody that I used to know)
(I used to know)
(That I used to know)
(I used to know)
Somebody

Minggu, 20 Mei 2012

ketakutan gue akan kelas 2

yaps bentar lagi ukk dan habis itu libur, uuuuh ganyangka udah setaun aja sama expresix u,u gue juga udah mulai disibukkan dengan rencana2 demo eskul nanti buat ditampilin ke adek kelas. ngomong2 tentang adek kelas, wahaha berarti sebentar lagi gue jadi kakak kelas deeeeeehhhh. oke, sebentar lagi gue kelas 2, dan ini sangat mengganggu pikiran gue. gue takut sama kelas 2, karena setiap kelas 2, gue selalu punya kenangan buruk.
 pertama, waktu gue kelas 2 sd. waktu itu gue berstatus anak baru pindahan dari negeri antah berantah. iya, gue pindahan dari dumai. dumai itu berada di daerah sumatera utara kalo gasalah, pokonya jauh deh dari siniii. balik ke masalah, berhubung gue berasal dari daerah, logat melayu gue masih kentel banget waktu itu, dan parahnya gue masih belum bisa berbahasa indonesia dengan benar. sekalipun gue ngomong bahasa indonesia, itu pun bahasa indonesia yang sangat formal yang dipake bapak2 kantoran saat sedang meeting. alhasil, gue dianggap freak dan dijauhin sama temen2 sekelas. ngenes.....
 terus waktu gue kelas 2 smp, waktu pertama kali masuk kelas, wali kelas gue bilang "yang waktu kelas 1nya menduduki rangking 1,2,3 berdiri didepan yaa, ibu mau lihat" seketika sekitar 10 anak lebih maju ke depan kelas, dan saat itu gue langsung berpendapat "gue salah masuk kelas niiih....." hari pun berganti hari. gue gabisa berbaur sama anak2 kelas gue, mereka semua mainnya berkubu. alhasil, gue pun punya kubu sendiri-_- gacukup dengan gabisa berbaur sama anak sekelas,waktu itu gue menderita penyakit yang membuat gue harus dirawat hampir 2 minggu, lo coba bayangin gue gamasuk sekolah 2 minggu meeeeeenn, coba seandainya sekarang gue begitu, mungkin pas masuk gue bakalan mati kejang2 ngeliat tumpukan tugas dan ulangan yang sedabrek-_- balik lagi ke masalah, gue dirawat hampir 2 minggu, itu pun gue harus bolak-balik check up, hingga bisa ditotal gue gamasuk hampir 1 bulanan. ah gilaaaa-_- prestasi gue bener2 ancur waktu itu, gue cuma masuk peringkat 15 besar. huuufttt. belum cukup dengan penyakit, kelas 2 adalah waktunya kita untuk studytour. waktu itu angkatan gue memilih jogja untuk dikunjungi. dan pengalaman itu bener2 worst, sumpah demi apapun gue benci bangeeeeeeettt. gabisa gue ceritain disini, terlalu panjang, mungkin lain waktu ya blogy u,u
 nah dari pengalaman2 gue yang dulu, gue jadi takut menghadapi kelas 2 sma gue ini. gue takut gue salah ngambil jurusan, gue takut gue gabisa berbaur dengan temen2 gue nanti, gue takut sekelas dengan ekhm, woody. fyi ya, akhir2 ini gue denger woody mau ngambil jurusan ips, dan kalo sampe itu beneran terjadi, peluang gue buat sekelas sama dia itu besar bangeeeeet. dan seandainya itu beneran terjadi, gue gabisa ngebayangin hidup gue 2 tahun kedepan. gue harap zaki beneran pindah ke smada dan sekelas sama gue untuk mengkuatkan hati dan iman gue tiap harinya *-_-
oke, omongan gue mulai ngelantur, gue juga besok mau sekolah. jadi, good night blogy!

Kamis, 17 Mei 2012

kecewa

pernah gasih lo berada di suatu sisi dimana lo excited akan sesuatu atau event karena lo tau itu kesukaan seseorang, dam disaat lo kasih tau ke orang itu, orang itu cuma ngerespon "oh" atau lebih parahnya "apaan sih?" gimana rasanya? sakiiiiiittttt, nyeseek, kecewa lebih tepatnya. yaps, itulah yang gua rasain sekarang, gue udah berkorban untuk seseorang yg gue sayang, dan orang itu cuma ngerespon "apaan sih". dan apa yang bisa gue lakuin? gue cuma bisa mendem, nangis deh ujung2nya. gue ngerasa apa yang udah gue lakuin itu gaberguna, bener2 gada harganya dimata orang tersebut. gua harap, suatu saat dia bakalan berada diposisi gue sekarang, dan ngerasain gimana rasanya dikecewain...

Rabu, 16 Mei 2012

untitled


Aku…
Seseorang yang mengetahui gerak-gerikmu
Seseorang yang ingin menjaga dirimu
Seseorang yang mencintaimu dalam hati
Rindu…
Mulai menusuk seluruh hatiku
Mengkorek semua kepedihan dihati
Mencari celah untuk membuat luka lebih dalam
Kamu…
Pergi dengan sejuta kenangan
Memberikanku beribu harapan
Meninggalkan banyak kepedihan

Sabtu, 05 Mei 2012

One Day Later...


One day later,
I'll go into somewhere
but nobody know where I am
and you missing me
One day later,
there postcard in front your house
but there isn't name of sender
and you think the sender is me
One day later,
you'll know how much I love you
but you don’t believe it
and you think it just a joke

Senin, 09 April 2012

give in



    “ Sar! Gue dapet nomornya Ryan dong.”
                “ Kok bisa?”
                “ Iya, gua sms Tora, pura-pura jadi Rania, anak sekolah yang sebelah itu. Nah terus gua dapet deh nomornya Ryan.”
                “ Terus lo udah sms si Ryannya?”
                “ Udah sih, tapi ngakunya sebagai Rania.”
                “ Terus kapan lo mau ngakunya?”
                “ Gatau nih. Makanya gua butuh bantuan lo.”
                “ Apaan?”
                “ Lo sms si Ryan, bilang kalo gua suka sama dia.”
                “ Lo serius Put?”
                “ Seriuuus.”
                “ Tapi kalo ada apa-apa gua ga nanggung yaa.”
                “ Okedeh.”


                “ Nih Put hape gue, gue kebawah dulu ya ngambilin minuman buat lo sama Dini.”
                “ Okedeh. Makanannya sekalian yaa” Jawab Dini sambil tertawa.
                “ Sialan lo.” Sarah pun memukul bahu Dini.
                Saat Sarah turun kebawah, Dini sedang asyik memainkan laptopnya, dan Putri pun memainkan hape Sarah.
                “Din, si Sarah masih suka Andre? Temennya si Ryan itu.”
                “ Kayanya masih deh.” Dini pun menghampiri Putri.
                “ Lo ga sakit hati? Kan lo juga suka sama Andre.”
                “ Ya engga lah, toh gua suka sama Andre cuma dari gayanya doang.”
                “ Eh ini nih minumannya. Makanannya ga ada, nyokap gua baru mau belanja soalnya.” Sarah pun menghampiri kedua temannya.
                “ Sar, lo mau nomornya Andre ga? Kan Andre temennya si Ryan juga.” Tanya Sarah.
                “ Gue udah punya kalii. Waktu itu sempet smsan, tapi dianya begitu, cuek banget.”
                “ Terus? Lo mau nyerah gitu?”
                “ Bukan nyerah, Cuma gamau terlalu berharap.”


                “ Put, semalem gue udah sms Ryan.”
                “ Terus dia gimana Sar?” Putri pun medekat dan begitu excited.
                “ Dia bilang, dia gasuka sama lo. Ah gua bilang juga apa, lo terlalu buru-buru.”
                “ Yaudah gapapa. Tapi gua pingin bisa smsan sama dia sebagai diri gua yang asli.”
                “ Yaudah nanti gua usahain deh.”
                “ Makasi ya Sar.”
                “ Iya.”
                Sarah pun pergi keluar kelas untuk berjalan-jalan. Ia memang orang yang mudah suntuk di dalam kelas. Lalu ia pun berjalan melewati kelas Ryan.
                “ Sarah!” Sapa Ryan dari belakang.
                “ Eh elo.”
                “ Ngapain lo disini? Modus ya sama gua?”
                “ Yee, pengen banget dimodusin emang?”
                “ Alah hayo ngaku, modus mah bilang aja.”
                “ Yah, jomblo sih. Makanya pingin dimodusin.”
                “ Wah sialan lo. Kaya elo engga jomblo juga aja.”
                Lalu bel sekolah pun berbunyi. Pertanda bahwa pelajaran pertama akan segera dimulai.
                “ Eh gua balik ke kelas ya. Daaah”
                “ Daaah.”
                Ryan pun melambaikan tangannya. Aku pun berlari-lari kecil agar segera sampai dikelas.
                “ Tadi lo ngapain sama Ryan?”
                “ Oh tadi? Cuma ngobrol biasa doang.”
                “ Ga  ngomongin gua kan?”
                “ Ya engga lah.” Sarah berbicara sedikit keras.


                Malam ini Sarah mengerjakan tugas hingga larut malam di laptopnya. Saat ia mulai bosan, ia mencoba membuka situs jejering social miliknya.
Ryan21                 : belum tidur?
Saraaaaah           : belum. Hihi
Ryan21                 : ngapain?
Saraaaaah           : ngerjain tugas. Lo?
Ryan21                 : gue mah emang kalo tidur malem.
Saraaaaah           : oooooh.
Ryan21                 : mau gua temenin ngerjain tugas ga?
Saraaaaah           : gimana caranya?
Ryan21                 : ya lewat chat laah.
Saraaaaah           : owalah boleh deh. Tapi kalo lo ngantuk tidur aja. Lagian gua juga balesnya bakalan lama
Ryan21                 : okedeh.
Saraaaaah           : gua lanjutin ngerjain tugas lagi yaaa
Ryan21                 : sip.
                Sarah pun kembali melanjutkan tugasnya dan membiarkan jejaring sosialnya dalam keadaan online. Sarah yang sibuk mengerjakan tugasnya tak memperdulikan pesan yang dikirim oleh Ryan kepadanya. Lalu setelah dua jam kemudian, setelah tugasnya selesai, ia pun membalas pesan dari Ryan.
Saraaaaah           : sorry, baru bales. Udah tidur belum?
                Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Ryan tidak membalas pesan tersebut. Sarah pun berniat untuk offlline dan bergegas tidur.
Ryan21                 : belum. Sorry ya, tadi abis dari kamar mandi.
Saraaaaah           : oh iya gapapa.
Ryan21                 : udah selesai tugasnya?
Saraaaaah           : udah. Hehe
Ryan21                 : terus sekarang mau ngapain?
Saraaaaah           : gatau deh.
Ryan21                 : yaudah, chat aja sama gua.
Saraaaaah           : boleeeeehh. Ahaha.
                Sarah pun saling bercakap dengan Ryan di dunia maya. Hingga hampir jam tiga pagi. Mereka saling mengobrol panjang lebar.


                “ Din gua mau cerita sama lu.” Ujar Sarah menghampiri Dini.
                “ Kenapa?” Dini pun menutup laptopnya, dan serius mendengarkan Sarah.
                “ Semalem gua chat sama Ryan sampe jam tiga.”
                “ kok bisa?”
                Sarah pun menceritakan apa yang terjadi semalam. Dini yang terlihat bingung harus bersikap bagaimana pun memilih untuk diam sejenak.
                “ Tapi lo gasuka kan sama dia?”
                “ Ya engga lah! Masa gua makan temen gua sendiri?”
                “ Yaudah lu jujur aja sama Putri. Tapi ga sekarang.”
                “ Yaudah nanti deh.”


                “ Sar! Semalem Ryan sms gue.”
                “ Iya? Waahh seneng tuuuh.”
                “ banget malah! Makasih ya Sar.” Seketika Putri pun langsung memeluk Sarah.


                                Udah tidur belum?
                                From: Ryan

                                Belum dong. Otw bandung nih. Hehe
                                Send to:  Ryan

                                Bilangin sama supirnya suruh hati-hati ya. Udah malem soalnya.
                                From: Ryan

                Sarah pun saling berkirim pesan dengan Ryan malam itu. Sebenarnya, ia merasa tidak enak dengan Putri, namun ia juga tidak mau menjauh dari Ryan. Karena ia takut hanya dianggap memanfaatkan Ryan selama ini.


“ Sar, Ryan kalo bales sms jutek banget ya?” Tanya Putri menghampiri Sarah.
“ Engga ah. Biasa aja.”
“ Lo masih suka smsan sama dia?”
“ Kadang-kadang. Kalo dia sms gua duluan.”
Putri pun meinjam hape Sarah dan membaca semua pesan dari Sarah. Tersirat sebuah pancaran kekecewaan dari wajah Putri.
“ Lo suka sama Ryan juga ya Sar?”
“ Ha engga kok.”
“ Bohong! Maksud lo apa smsan sama dia sampe tengah malem begini? Gua ga nyangka lo setega ini sar!”
“ Tunggu dulu, gua bisa jelasin semuanya Put.”
“ Udah lah Sar, gue kecewa sama lo!” Putri pun pergi menjauhi Sarah, dan menghampiri teman-temannya yang lain


Sarah bingung harus bersikap bagaimana. Ia sadar, bahwa seharusnya dari awal ia tak usah menanggapi semua pesan-pesan dari Ryan itu. Bahkan sekarang Sarah pun marah pada Ryan, ia berkata bahwa ia tak mau mengenal Ryan lagi.
Ryan pun tak mau disalahkan, karena dari awal ia sudah bilang bahwa ia tidak menyukai Putri, hanya saja Sarah yang selalu memaksanya untuk mendekati Putri. Bahkan Sarah sempat mengancam untuk tidak mau mengenal ia lagi jika ia tidak mengirim pesan pada Putri.
Ryan yang tidak tahan lagi akan situasi ini pun berbicara pada Dini, sahabat dari Sarah dan Putri. Merekan pun mengatur rencana untuk mempertemukan mereka berempat.


Akhirnya mereka pun bertemu disebuah restaurant. Setelah beberapa lama mereka hanya diam, Ryan pun bersuara memecahkan keheningan.
“ Oke, semua ini rencana gua buat mempertemukan kalian berdua dan Dini. Gini, gua mau jelasin semuanya. Karena gua gasuka posisi gue sekarang sebagai penghancur hubungan persahabatan seseorang.” Ryan pun menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan pembicaraan. “ Untuk Putri, maaf Put, gue emang gasuka sama lu. Gua harap lu ngerti, dan bisa nemuin orang yang lebih baik dari pada gue.”
“ Oke. Gapapa. Tapi lo harus jawab pertanyaan gue.” Pinta Putri terhadap Ryan.
“ Apa?”
Dengan menatap Sarah dan kembali menatap Ryan pun, Putri memberanikan diri bertanya, “ Lo suka ga sama Sarah?” mendengarkan pertanyaan Putri tersebut, Sarah pun kaget setengah mati. Ia tak menyangka bahwa Putri akan menanyakan hal tersebut pada Ryan.
Ryan pun menatap Sarah dan menjawab pertanyaan tersebut. “ Iya, gua suka sama Sarah.” Setelah lama terdiam, Ryan pun melanjutkan kembali, “ Dari dulu. Waktu pertama kali Sarah sms gua, gua seneng banget. Gua ga nyangka kalo gua punya kesempatan buat deket sama dia.”
Sarah yang kaget akan pernyataan Ryan pun hanya diam. Sedangkan Putri hanya memaki-maki dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia meminta tolong Sarah waktu itu, membiarkan orang yang ia sukai medapatkan kesempatan untuk bisa dekat dengan orang yang ia sukai, yaitu sahabatnya sendiri.
Ryan pun mengambil tangan Sarah dan menggenggamnya, “ Sar, gua suka sama lo.” Sarah tak tau harus berbuat apa pun, menarik tangannya kembali dan keluar dari restaurant untuk pulang.


Hari sudah larut malam, namun sarah masih belum tidur juga. Ia masih menangis mengingat kejadian tadi sore di restaurant. Tak dihiraukannya pesan dan telepon dari Ryan yang terus berdering.

                Please angkat telepon gue, atau gua nekat kerumah lu tengah malem begini
                From: ryan

Sarah yang tau mau masalahnya menjadi semakin rumit pun mengangkat telepon dari Ryan yang tak lama kemudian bordering.
“ Akhirnya lo mau ngangat telepon gua Sar…” belum sempat Ryan menyelesaikan kalimatnya. Sarah pun sudah marah-marah terhadap Ryan. “ Belum puas lo ngancurin persahabatan gue sama Putri? Sekarang mau lo apa lagi?”
“ Gua ga ada niat ngancurin persahabatan lo Sar, gua cuma mau ngomong yang sejujurnya.”
“ Gua ga peduli lo mau jujur atau engga. Gua ga peduli lu suka sama siapa. Karena gua emang ga pernah peduli apa pun tentang lo! Ngerti?!”
Telepon Sarah matikan. Ia pun segera mematikan hapenya. Ia tak ingin diganggu siapa pun malam ini. Ia menangis tersedu-sedu hingga akhirnya ia tertidur.


Saat ia sampai di sekolah ia pun melihat tulisan di papan tulis “ Sarah, si tukang backstabber sahabatnya sendiri.” Bahkan ia duduk di bangkunya. Ia melihat di kolong mejanya terdapat banyak kertas cemohan untu dirinya. Ia tak pernah menyangka niat baik untu membantu sahabatnya akan berakhir seperti ini. Bahkan saat beberapa orang melihatnya, banyak yang langsung berkata “ hai backstabber” dengan nada yang begitu menyindir.
Karena tak tahan diperlakukan seperti ini, ia pun mengambil semua kertas yang berisi cemohan tersebut dan lari menuju kelas Ryan. Tanpa permisi, ia pun langsung masuk dan menghampiri ryan. Ryan yang kaget akan kehadiran sarah pun langsung berdiri dari duduknya.
“ Ada apa Sar? Tumben dateng kesini. Buru-buru lagi.” Tanya Ryan bingung.
Sarah pun menunjukkan tumpukan kertas yang berisi cemohan tersebut dan berkata, “Puas lo ngancurin hidup gue?” lalu melemparkan kertas tersebut ke wajah Ryan dan pergi meninggalkan kelas tersebut.
Ryan yang bingung pun membaca isi kertas tersebut dan langsung mengejar sarah.


Sarah pun dijauhi oleh teman-teman sekelasnya. Ia menjadi lebih pendiam dan banyak melamun. Dini yang prihatin pun diam-diam mendekati Sarah saat ia sedang tidak bersama Putri.
“ ngapain lo disini? Gatakut nanti gebetan lo gua backstab?” Ujar Sarah kesal.
“ Sar, gua tau kok ini semua bukan salah lo.”
“ Kalo lo tau, kenapa lo ga ngelakuin sesuatu? Atau setidaknya belain gua saat posisi gua kaya gini.”
“ Maafin gua Sar, gua juga gatau harus gimana.”
“ Lo tau din? Gua ga pernah berniat buat ngedeketin Ryan sama sekali. Bahkan gua gapernah nyapa dia duluan, kecuali dia yang nyapa gua. Niat gua tulus, Cuma mau bantuin Putri doang”
“ Iya gua ngerti Sar. Gua tau juga, sebenernya Putri ga marah sama lo, dia cuma bingung harus melampiaskan ke siapa kemarahannya karena cintanya bertepuk sebelah tangan.”
“ Oke gua bisa ngerti itu. Tapi untuk semua cemohan ini? Terlalu sakit Din. Sorry, gua cuma manusia biasa yang masih punya batas kesabaran. Lagian sebulan lagi kita lulus, setelah itu kita ga bakalan ketemu lagi, jadi gua bakalan berusaha bertahan akan situasi ini kok. Thanks ya din.” Sarah pun pergi ke kantin.


“ Lo keterlaluan put!” Bentak Ryan pada Putri. “ Lo tau kan semua ini bukan kesalahan Sarah? Kenapa lo tega ngelakuin semua ini ke sahabat lu sendiri?”
“ Elo yang keterlaluan Yan. Kenapa lo masih suka sama Sarah padahal lo tau kalo gua suka sama lo!”
“ Yaudah! Kenapa lo ga marah sama gua aja?”
“ Gabisa Yan.” Ujar Putri sambil berdiri menahan air mata. “ Karena gua sayang sama lo.” Seketika air mata itu tumpah didalam pelukan Ryan.
Beberapa orang yang ada di kelas berteriak “ Ecieee” pada Putri dan Ryan. Ryan hendak melepaskan pelukan Putri, namun Putri memeluknya terlalu erat. Lalu Sarah pun masuk ke kelas dan melihat semuanya. Tiba-tiba entah siapa, ada seseorang yang berkata, “ Sarah panas tuh ngeliatnya.” Sarah hanya terdiam, namun Ryan segera melepaskan pelukannya Putri dan menghampiri Sarah.
“ Sar, ini ga seperti yang lo pikirin Sar.”
“ Udahlah Yan, santai aja kali.”
“ Sar, gua berani bersumpah Sar.”
“ Dih apaan sih lo? Lebay deh ah.”
“ Sarah, gua beneran sayang sama lo.” Seketika Ryan pun memeluk Sarah. Sarah yang kaget pun meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Namun bukannya Ryan melepaskan, ia malah semakin erat memeluk Sarah. Dan ada seseorang yang menyelutuk, “ Wah, ini sih bukannya Sarah yang backstabber, tapi si Ryannya aja yang mau sana, mau sini.” Ryan pun melepas pelukannya, Sarah yang mukanya memerah karena kehabisan nafas, disenderkan pada bahunya. “ Iya, emang gua yang brengsek! Puas lo semua?!” Lalu didudukkannya Sarah di bangkunya, dan Ryan pun pergi kemudian.


Hari ini sekolah mengadakan acara kemping disebuah hutan, dan seluruh siswanya wajib mengikuti kegiatan ini. Dan karena ulah Putri, Sarah pun tak mendapatkan kelompok sehingga ia terpaksa membangun tenda sendirian.
“ Sini gua bantuin.” Ujar Ryan mendekati Sarah. Karena Sarah memang tak mengerti cara membuat tenda, ia pun membiarkan Ryan untuk membantunya.
Setelah tenda selesai dibuat, Sarah terlihat kurang enak badan pun langsung masuk ke dalam tenda untuk tidur. “ Lo sakit?” Tanya Ryan, masuk menghampiri Sarah. “ Engga kok.” Jawab sarah. “Nanti kalo butuh apa-apa bilang gua aja ya.” Ujar Ryan membelai lembut rambut Sarah dan segera keluar dari tenda. Ia tak mau ada seseorang yang melihatnya, dan membuat gossip lagi tentang dirinya.


Setelah acara api unggun, Ryan pun mulai mencari Sarah. Ia khawatir, karena sejak tadi sore ia tidak melihat Sarah. Setelah semua temannya tidur, ia masih mencari Sarah, dan berinisiatif untuk ke tendanya Sarah. Ternyata benar, Sarah berada di dalam tenda, dengan muka pucat dan badan yang menggigil. “ Sar, lo kenapa?” Tanya Ryan panik. Namun Sarah tidak menjawab, sepertinya ia sudah sangat lemas.
Ryan pun segera kembali ke tendanya, dan mengambil obat-obatan miliknya lalu kembali ke tenda Sarah. Didudukkannya Sarah pelan-pelan, lalu Ryan tutupi badan Sarah dengan selimut. Namun sarah masih menggigil, dirangkulkan lah pundak Sarah lalu Ryan minumi ia obat. Setelah beberapa lama kemudian, menggigil Sarah sudah mulai berkurang, Ryan pun masih merangkul pundak Sarah agar ia tidak terlalu kedinginan. Tiba-tiba Putri masuk ke dalam tenda memergoki mereka berdua. “ Wah, ngapain lu daritadi berduaan dalem tenda ga ada suara?” Suara Putri yang begitu keras membuat hampir seluruh anak-anak terbangun, termasuk para guru. Mereka pun melihat Ryan dan Sarah yang memang sedang berduaan di dalam tenda.
Ryan segera bangun dan membiarkan Sarah tetap duduk, karena ia begitu lemas. “ Tunggu dulu, ini itu ga seperti yang kalian lihat.” Ujar Ryan berteriak. “ Alah, udah ketangkep baah, masih aja ngeles.” Dan terdengar banyak teriakan menyoraki Ryan dan Sarah.
Melihat banyak amukan massa seperti itu, para guru pun segera menenangkan dan memanggil Ryan, Sarah, dan juga Putri.


“ Coba Ryan, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!”
“ Jadi begini Pak, tadi itu Sarah sedang sakit, badannya menggigil bahkan mukanya sudah pucat. Oleh sebab itu saya mendatangi tendanya dan memberikannya obat.”
“ Bohong Pak! Tadi saya melihat mereka berdua tertutup selimut!” Ujar Putri sambil berteriak.
Ryan dan Sarah kaget mendengar pernyataan palsu tersebut pun hanya menganga.
“ Ini sudah keterlaluan Ryan! Kamu juga Sarah!” Kini Pak Guru tersebut benar-benar marah.
Namun tiba-tiba Dini menghampiri mereka berempat. “ Lo keterlaluan Put! Lo bikin Sarah dijauhin dari temen-temen dan sekarang ngefitnah mereka! Lo jahat Put! Lo ngelakuin semua ini cuma karena rasa kecewa lu bahwa Ryan lebih milih Sarah disbanding elu kan?!”
Putri yang mendengar semua pernyataan Dini tersebut hanya diam. Ia sadar, bahwa apa yang ia lakuin selama ini sebenarnya salah, namun itu semua tertutupi oleh rasa kekecawaannya terhadapa sikap Ryan yang tidak memperdulikannya. Pak Guru yang menjadi semakin bingung pun mengambil suara.
“ Sebentar dulu, jadi apa yang sebenarnya terjadi?”
“ Sarah memang sedang sakit Pak. Oleh sebab itu Ryan ke tendanya untuk memberikannya obat, dan berada disamping Sarah untuk mengecek keadaannya.” Jawab Dini jujur.
“ Benar itu Ryan?” Tanya Pak Guru terhadap Ryan.
“ Iya Pak.”
“ Ya sudah kalau begitu. Sekarang kalian kembali ke tenda masing-masing. Dini, kamu jagain Sarah yaa.”
“  Baik pak.”
Lalu Dini, Sarah, dan Ryan pun menuju tenda Sarah. Sedangkan Putri entah hilang kemana.
“ Makasih banyak ya Din, gua gatau gimana jadinya tadi tanpa lo.” Ucap Sarah.
“ Santai aja lagi. Mau gimana pun kan lo sahabat gua Sar.”
“ Makasih ya Din.” Ucap Sarah, lalu memeluk Dini.
“ Yah, gua mau dong dipeluk Sarah.” Ucap Ryan dari luar sambil melipat tangan karena kedinginan.
“ dasar lo pinginan!” Ucap Dini dari dalam sambil melempar sandal ke arah Ryan.


Seluruh kelas pun sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Mereka pun meminta maaf kepada Sarah. “ Sar, maafin gua ya. Gua udah jahat banget sama lo. Gua gap antes jadi sahabat lo.” Ucap Putri menunduk seperti malu akan perbuatannya. Sarah pun segeran memluk Putri, “ gue udah maafin lo kok. Lo tetep sahabat terbaik gue.” Mendengar pernyataan itu, Putri pun memeluk sarah kembali, “ Makasih ya Sar.”


Sarah, Putri, dan Dini pun kembali menjadi akrab. Sarah pun menganggap bahwa semua kejadian ini tak pernah terjadi. Ia sudah sangat besyukur dapat bermain bersama kedua sahabatnya.
“ Sarah, gue mau ngomong sama lo.” Terdengar suara Ryan mendekati Sarah yang tengah bercanda bersama kedua sahabatnya. “ Apa?” Tanya Sarah. “ Gue sayang sama lo, lo mau ga jadi pacar gue?” Tanya Ryan begitu gugup. Sarah yang mendengarkan pertanyaan tersebut pun sedikit kaget. Dilihatnya, kedua wajah temannya, mereka semua member ekspresi yang menunjukkan udah-terima-aja, namun sepertinya Sarah sudah tau apa yang harus dia lakukan, “ Maaf Yan, gua gabisa nerima lo. Setidaknya sampai kedua sahabat gue udah punya pacar.” Ryan sedikit kecewa dengan jawaban Sarah, begitupun kedua sahabatnya.
“ tapi berarti nanti lo bisa nerima gua kan Sar?” Tanya Ryan tak mau menyerah.
“ mungkin.”
“ gue gabakal sabar nunggu saat itu Sar.”
Lalu Ryan pun keluar dari kelas. Dan Sarah kembali mengobrol dengan kedua sahabatnya seperti tidak ada yang terjadi.